Semoga Aku Tidak Genit

Tahukah Engkau kalau saputanganku sudah basah karena air mata dan ingus? Lihatlah, sudah bisa kuperas airnya..

Tahukah Engkau telapak tanganku sudah berdarah luka karena terlalu sering berpegangan pada pegangan yang salah? Mulanya seperti surga namun ternyata berbalut duri…

Tahukah Engkau mataku sudah tak lagi mampu memandang matahari? Iya, aku tidak lagi merasakan hangatnya, karena aku sudah lama bersembunyi di bawah kolong tempat tidur…

Dan kini, tiba-tiba aku berjalan tertatih ke arahMu..aku tahu Kau tak mungkin lupa kalau aku kini penuh luka dengan sehelai saputangan yang basah karena air mata..

Aku berjingkrak-jingkrak, akhirnya sedikit menghirup udaraMu di saat kolong tempat tidur ini tak lagi menyediakan oksigen yang cukup untukku..

Aku berjingkrak-jingkrak, akhirnya aku menemukan pegangan yang rasanya empuk sekali, dan hei..sejuk sekali..serasa aku memeluk guling yang sudah semalaman kutaruh di lantai biar dingin..tapi rasanya jauh jauh jauh lebih nyaman, ah…aku tak menemukan kata yang pas untuk mengggambarkannya..

Aku berjingkrak-jingkrak lagi..dihadapanMu…terlalu senang, karena aku tahu persis Kau sandaran yang paling kokoh..

Aku berjingkrak-jingkrak lagi..ingin bergelayut manja pada perkasaMu..lalu bukankah semua perkara bermuara padaMu?

Lalu aku berjingkrak-jingkrak lagi saking senangnya…

Semoga mereka tidak menganggapku genit karena terlalu menyenangi Kau..