Lebih Hidup

Holla Readers!!

Ngomong ngomong tentang buku, benda ini adalah benda favorit yang udah lama banget ga pernah disentuh lagi sejak kerjaan rutin sebagai “gurunya mahasiswa” dimulai. Keinginan buat membaca udah mulai turun karena sampai di kosan udah cape tepar duluan. Keinginan buat beli buku tiap bulan juga makin berkurang karena mikirnya sayang beli buku tapi ga pernah dituntasin bacanya. Paling mentok baca sampe setengahnya, terus ditaruh aja di meja. Kalau dihitung, kira-kira ada 4 buku yang baru dibaca setengahnya, terus lupa dan ga dibaca lagi *aku yang dulu kemanahh?*

Nah, buku yang potonya nangkring dipostingan aku kali ini adalah kado ulangtahun dari mantan pacar di bulan November tahun lalu. Buku ini sebenarnya udah lama banget terbit cuma akunya aja yang rada ga apdet dan baru baca beberapa bulan ini. Jujur, tiap kali ngeliat buku Mitch Albom di toko selalu tertarik sama judulnya. Tertarik juga sama sekelumit gambaran isinya yang tertulis di belakang bukunya. Cuma selalu aja maju mundur kalau mau beli, sebab kadang suka ngerasa isi bukunya sedikit mengarah ke ajaran kepercayaan yang lain *apa sotoy aja kali ya*.

Cuma ini buku bisa dikategorikan kejutan yang lumayan manis dari mantan pacar aka suami, yang masih inget aku kepengen punya buku ini. Padahal aku cuma cerita-cerita ringan aja kalau tertarik pengen beli ini. Dan dia ternyata masih inget, hehe kind of sweet sih.

Oke. Balik ke buku ini. Kalau dilihat dari jalan cerita secara keseluruhan, jujur buku ini lumayan bikin agak merinding karena kisah hidup si Profesor Morrie. Buku ini begitu mengajarkan banyak hal yang baik dalam hidup namun sepele dan sering terlupakan. Profesor Morrie, dosen dari Mitch Albom ini dikisahkan divonis penyakit syaraf mematikan yang membuat dia hanya mampu bertahan hidup hanya 2 tahun lagi. Bisa dibilang anugrah dan musibah di waktu yang bersamaan bukan? Disaat musibah datang dalam bentuk sakit, namun disaat bersamaan seakan Tuhan kasih anugrah untuk tahu ajal akan segera menjemput dalam waktu dekat. Dengan itu, segala persiapan menujuNya pun dilakukan.

Semakin lemahnya Profesor Morrie dan berakhir lumpuhnya seluruh anggota tubuhnya, merupakan salah satu bagian terbaik yang membuat aku banyak berpikir. Di saat-saat terlemahnya, justru dia banyak melakukan hal yang sangat bermanfaat untuk orang lain. Berbagi motivasi dan semangat yang mungkin ga semua orang sehat bisa punya. Bagian ini bisa buat aku mikir, aku yang sehat aja *alhamdulillah* bisa aktivitas dengan baik justru ga punya semangat sebaik dia buat ngerjain hal yang bermanfaat. Kalau hari libur banyak tiduran doang dibanding ngisi waktu luang dengan kegiatan yang guna. Malu ye kan harusnya. 

Kalau dari sisi tata bahasa, maafkan kalau agak sotoy, menurut aku gaya bahasanya agak kaku sih. Mungkin karena buku terjemahan kali ya. Ngeliat resensi versi bahasa Inggrisnya, makna dari buku ini lebih terasa. Namun apapun itu, buku ini tergolong pada buku bagus yang layak dibaca. Sarat makna, bermanfaat. Intinya, buku ini mengajarkan untuk menjalani hidup yang lebih “hidup”.

Berhubung bacanya baru setengah, nanti kapan-kapan dilanjutkan lagi postingan terkait buku ini. InsyaAllah. Kalau ada Readers yang udah tamat baca buku ini, boleh dibagi reviewnya.

Much Love,

Jakarta ujan lagi, 8.11 pm.

The truth is, once you learn how to die,you learn how to live

Advertisements