Kondangan dan Eyeliner

Holla Readers!!

Selamat pagi dari Bandung, lebih tepatnya dari kos-kosan Dago Barat. Rasanya menyenangkan banget pagi ini bisa leyeh-leyeh di depan jendela kosan lantai 3.

image

Bisa menikmati udara adem Bandung (walaupun sekarang mulai rada-rada panas), bisa ngobrol ngalor ngidul sama temen-temen yang masih berjuang buat namatin kuliah magisternya disini dan seabrek perasaan yang ga bisa dijelaskan dengan detail. Pokoknya Bandung itu selalu ngasih rasa adem yang beda dan unik sejak pertama kali aku pindah kesini buat ngelanjutin kuliah. Ga tau deh kenapa, apa karena aura dari akang-akang kasep kali ya?

Jadi aku sengaja ke Bandung buat hadir ke nikahan temen se-dosen-pembimbing tesis. Acara akad nikah dan resepsinya diadain di Tasikmalaya, yang mana butuh waktu kira-kira 2-3 jam buat nyampe kesana dari Bandung. Berangkat rame-rame dengan teman sesama mantan pejuang tesis dulu seperti ngasih nutrisi hati yang beda. Bebas becanda sambil ketawa ngakak, berasa lebih seru daripada ngomong ke rekan sesama kerja yang notabenenya umurnya lebih tua. Berasa riskan, karena khawatir becanda dikit ntar malah yang ada tersinggung. Aku mesti belajar banyak lagi gimana caranya bisa nyambung ngobrol ke orang yang lebih tua *lah kok curcol sih Fan?*.

Baiklah. Continue reading

Seimbang

Seimbang ini bermanfaat banget diinget pas aku melancong ke dunia Gramedia. Dunia Gramedia itu dipenuhi berbagai macam warna yang bakalan menarik perhatian dan juga isi dompet. Mulai dari yang warnanya unyu unyu girly sampe yang artistik nan misterius. Semuanya siap memanjakan visual, sekaligus juga membahayakan isi tabungan.

Andaikata, seimbang ini terlupakan, mungkin buku-buku karya Ika Natassa, Raditya Dika, Fahd Pahdepie, Ilana Tan, Pidi Baiq, Tere Liye bakalan semuanya aja dimasukin kantong belanjaan. Tapi dengan niat biar nutrisi otak seimbang sama nutrisi buat hati, makanya cuma beberapa buku dari penulis-penulis diataslah yang terpilih masuk ke dalam kantong belanjaan, yaitu buku Tere Liye “Hujan” sama Pidi Baiq “Dilan #2”. Kenapa milih 2 buku ini? Iya, karena yang satu sarat makna dalam kata-kata yang serius. Yang satunya lagi semi sarat makna dalam kata-kata yang bikin ketawa.

Dan ga lupa, biar referensi bacaannya agak “sastra” dikit, ga ketinggalan buku karya Sapardi Djoko Damono “Hujan Bulan Juni” juga dimasukin ke kantong belanjaan. Walaupun buku yang aku ambil  ini adalah yang versi novel, tapi tetap aja rangkaian katanya..umm bisa dibilang punya keindahan yang beda *halah ini penilaian awam dari orang yang ga ngerti karya sastra*

Kemudian, nutrisi buat hati sih harusnya mesti seimbang juga sama nutrisi buat otak. Jadilah buku terbitan Kesaint Blanc yang buat belajar Bahasa Jepang sama Bahasa Inggris dimasukin juga ke kantong belanjaan. Hari giniiii masih belajar bahasa Inggris? Continue reading

Dengan Apa Bisa Aku Balas?

Mereka meleleh

Dalam api

Dalam keringat

Dalam penat

Dalam cinta

Tanpa peduli panas

Tanpa peduli ringkih

Lalu mereka mengalir ke palung terdalam, menjadi doa-doa panjang yang tak pernah selesai

Menjadi payung pelindung nan penuh berkah di setiap langkah

Lalu dengan apa bisa aku balas?

NB: teruntuk Ayah dan Ibu, semoga Allah senantiasa hadiahkan bahagia dan surga, aamiin.

EF #16.1 – Value

I hope it is not too late for me to take a part in BEC’s challenge this week. Because it is the first challenge in 2016, I think it is a good start to make a change, especially about the consistency to keep writing in my blog. So, straight to the point, my word for this 2016 is VALUE.

Why is value?

Because I wish I can see great value of everything that happened in my life. When I am going to do something or to decide a choice, I wish I can see its value as the main criteria. Like when I prefer being lecturer than being others, I hope I can always remember the value behind the reason I chose it. Or whenever bad or good things happen in my life, I wish I can see the value of it, beyond the happiness or the sadness in that happening itself. Or maybe when I am going to choose to marry with someone, I hope I can value him as my spouse, as my leader, as my best friend, as someone that I really love and respect.

So that is all about my word for this 2016. How about yours? Hope your word can enlighten your life ahead! 🙂

Sehat Ga Mesti Mahal

Holla Readers!

Sehat itu katanya mahal. Iya mahal, kalau dari sehat udah terlanjur sakit duluan. Yang mesti berobat ke dokter, beli obat apalagi kalau parahnya mesti dirawat inap di rumah sakit. Jelas biayanya makin makin mahal. Apalagi kalau mau obatnya yang oke, fasilitas rawat inapnya yang bagus dan nyaman, mesti siap-siap merogoh kocek lebih dalam lagi.

Kayak siang ini, setelah kontrol lagi ke dokter buat mastiin ini sakit ga makin menjadi, dompet aku masih tetap aja syok. Gimana ga. Namanya aja kontrol biasa, bukan berobat, tapi tetap dikasih obat dan obatnya menurut aku ya ampun mahalnya. Walaupun masih mampu bayar, tapi berasa sayang aja itu duit abis buat beli obat yang cuma 2 macam. Bukannya ga sayang sama kesehatan sendiri juga sih, tapi…ah udahlah, emang dasarnya perhitungan sih. Nah baru deh gini berasa sehat itu mahal. Apalagi sekarang aku masih belum daftar asuransi kesehatan apapun, BPJS atau asuransi swasta lain. Biaya berobat ya belum bisa diklaim kemana-mana. Masa mau diklaim ke emak di kampung?-_- Continue reading