Jadi Mesti Gimana??

Holla Readers!!

Selamat pagi di hari Minggu!
Ga kerasa waktu UTS anak-anak mahasiswa udah selesai aja. Artinya bakalan ada setumpuk lembar jawaban mahasiswa yang harus aku periksa. Kalau ditotal-total dari 5 kelas yang aku pegang di semester ini, kurang lebih 100 lembar jawaban harus segera diperiksa biar nilainya bisa dimasukin ke dalam sistem.

Udah ada 4 kelas yang aku periksa lembar jawabannya. UTS ini sebenarnya bukan aja evaluasi buat mahasiswa, tapi juga evaluasi buat aku yang ngajar mereka selama 3 bulan ini. Deg-degan?Iya

Agak lebay ya keliatannya, tapi aku beneran penasaran sama hasil UTS anak-anak ini. Berharapnya sih nilai mereka diatas 75 semuanya.

Tapi kenyataannya ga.

Ada satu kelas yang rata-rata nilai mereka cuma 50. Yang dapet 80 cuma 1 orang. Bahkan ada dari mereka yang dapat nilai 19. Hah?19? Kecewa?Iya.

Gimana ga kecewa karena sebelum UTS aku udah ngasih quiz yang mana 8 dari 10 soal quiz tersebut bakalan sama persis dengan soal UTS. Yang artinya mereka sebenarnya tinggal hapalin teori dan jawaban dari soal quiz mereka. Kalau mereka beneran belajar dari soal quiz itu, ya at least nilai 75 udah di tangan. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran aku. Tapi toh kenyataannya ga sesimpel itu.

Bahkan ada lagi di satu kelas ketika aku ikut mengawas ujian, ada yang ketahuan nyontek catatan. Kesel?Iya. Padahal sistemnya sama aja kayak kelas yang lain. Aku udah kasih soal quiz yang mana 8 dari soal quiz bakalan sama persis dengan soal UTS. Tapi kenyataannya, masih ada yang ga belajar. Greget deh.

Ibaratnya makan, itu makanan udah disuapin, mereka cuma tinggal ngunyah terus telan. Tapi masih aja ada yang males “ngunyah”. Terus harus gimana?

Sepertinya harus ada metode lain yang mesti dipake buat memotivasi mereka, supaya mau belajar. Yang bikin mereka paham pentingnya belajar yang tekun dan sungguh-sungguh. Karena mereka udah milih jalan buat kuliah, ga peduli itu atas keinginan sendiri ataupun suruhan orangtua, ya tetap mereka harus bertanggungjawab atas pilihan itu. Konsekuensinya mereka harus belajar. Bukan buat pintar, tapi buat persiapan dan bekal mereka nantinya survive di dunia kerja. Setidaknya mereka punya mental yang benar dan baik buat ngadepin masa depan mereka. Karena toh banyak orang sukses yang bukan sekedar ngandelin cerdas, tapi lebih karena mereka punya attitude yang baik dan tekun sama apa yang mereka usahain. Nah kan, tekun itu penting.

Dan karena disini aku ga pengen hanya sekedar jadi tenaga pengajar, tapi juga pendidik. Berharap bisa ikut ambil andil sedikit dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Caranya?

Aku yang harus lebih tekun dan lebih banyak lagi belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s