Cerita Mbak Upik

Holla Readers!!

Ceritanya sekarang lagi di Cibubur, lagi nunggu hasil tes TOEFL yang baru keluar besok *dan pura-pura ga tau kalau ini blog udah lama banget ga update*.

Alkisah, di Cibubur ini, si Tante tinggal bersama seorang asisten rumah tangga yang bernama Mbak Upik. Masih tergolong muda, berumur 29 tahun. Berasal dari Kebumen dan udah kerja sama si Tante lebih dari 1 tahun. Orangnya baik dan kalau udah ngobrol sekali, susah banget buat disetop. Kayaknya si Mbak Upik ini ga pernah kehabisan bahan buat diobrolin. Bahkan terkadang kalau udah kelamaan ngomong, aku cuma nanggepin dengan kata-kata “iya Mbak”. Soalnya kadang-kadang jadi ngantuk kalau kelamaan dengerin dia ngobrol *maaf ya Mbaak*.

Lalu, apa aja isi obrolan Mbak Upik ini? Gosip tentang asisten rumah tangga rumah sebelah yang cinlok sama satpam kompleks? Atau cerita tentang Julia Perez yang pisah sama ayang Gaston? Atau masalah foto mesra si ketua KPK sama Putri Indonesia? Atau cerita tentang harga cabe yang sekarang kian mahal?

Tidak sama sekali.

Obrolan sama Mbak Upik ini semuanya adalah tentang ilmu agama. Eits, tunggu dulu Readers, jangan pikir kalau si Mbak Upik ini kayak ustadzah yang mengkaji ilmu agama yang berat-berat. Sosok Mbak Upik ini adalah orang yang suka membaca buku agama serta menerapkan apa yang ditulis di buku tersebut dengan baik. Lalu si Mbak Upik ini akan senang sekali membahas dan bercerita tentang isi buku yang sudah dibacanya kepada orang yang sedang diajaknya mengobrol. Dia hobi banget nonton acara televisi yang berbau agama. Mulai dari Titian Iman, Beriman dan lain lain yang ga bisa aku ingat satu-satu karena saking banyaknya.

Kemaren, sembari kami duduk-duduk di teras belakang, Mbak Upik sedang memasang sarung bantal sambil bercerita tentang bagaimana rasanya bekerja dengan si Tante selama 1 tahun belakangan ini. Dan saat itu, aku mulai kagum dengan sosok Mbak Upik ini. Bagaimana tidak, si Tante yang notabenenya adalah orang yang cukup keras dan perfeksionis, yang kemungkinan kalau asisten rumah tangganya ga kuat-kuat hati, bisa aja minta pulang dalam waktu 3 bulan. Namun Mbak Upik beda. Mbak Upik melihat sosok si Tante dari sisi yang sama sekali berbeda. Kalau misalnya si Tante lagi marah karena masalah kerjaan Mbak Upik, Mbak Upik sama sekali ga kesal atau menaruh dendam. Jutsru dia malah instropeksi diri sendiri, ngecek lagi mungkin aja apa yang dia kerjain emang salah. Terus Mbak Upik ini juga cenderung suka mengingat kebaikan-kebaikan yang udah dilakukan si Tante. Dan kalau terjadi hal-hal yang ga ngenakin, Mbak Upik justru menganggap itu adalah ujian dari Allah lewat perantara manusia. Keren ya Mbak Upik ini? Katanya ujian kesabaran, jawabnya sewaktu aku tanyain gimana rasanya kalau lagi dimarahin si Tante.

Kemudian dia cerita kalau apa-apa yang terjadi dalam hidup, kita harus bisa menyikapinya dengan ilmu. Karena tanpa ilmu, kita manusia ga akan mampu menjalani hidup dengan baik. Sedikit masalah datang, malah jadi gampang stress dan putus asa. Tapi kalau menghadapinya dengan ilmu, insyaAllah kita akan paham kalau semua yang terjadi dalam hidup adalah bentuk ujian yang diberikan Allah. Kita akan menjadi manusia yang lebih baik jika mampu lulus ujian tersebut. Karena pada akhirnya, toh nanti yang akan dihitung di hari akhir adalah amal kebaikan kita. Begitu kira-kira penjelasan yang disampaikannya dengan bersemangat. Keren ya Mbak Upik ini?

Mbak Upik juga cerita, kalau dia selama 5 tahun terakhir gonta-ganti rumah bekerja sebagai asisten rumah tangga dan gajinya dipake buat bantu adeknya sekolah. Sekarang adeknya udah bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan. Bahkan adeknya udah bisa beli rumah. Mbak Upik ini justru malah ga melanjutkan sekolah. Tapi dia ikhlas nyekolahin adeknya. Katanya: “itu salah satu bentuk bakti saya sama orangtua, ga apa-apa saya ga sekolah asalkan adek saya bisa sekolah, yang saya harapkan hanya pahala dan ridho dari Allah”. Sekali lagi, keren ya Mbak Upik ini?

Ternyata ngobrol panjang sama Mbak Upik ini banyak memberikan pelajaran. Jadi banyak teringatkan.Terima kasih untuk ceritanya Mbak Upik. J

With Love,

Salam Semangat!!!

2 thoughts on “Cerita Mbak Upik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s