Sesimpel Kuda Makan Rumput

Joy is found in the simple and ordinary things of life ; the smile of a newborn baby, the kiss from a sweet new puppy and the warm sunshine on a spring day – Marie Cornelio

Holla Readers!!

Selamat sore dari balik jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar lagi biar mood nulisnya bagus. Akhirnya kelar juga misi seharian menemani Resti mulai dari sarapan pagi biar pas tes wawancara perutnya ga bunyi “kriuk-kriuk” hingga berakhir di stasiun kereta api. Angkat 4 jempol *sekalian jempol kaki* untuk Resti yang udah berani mau balik ke Lampung dengan Damri via jalur darat plus laut, sendirian dan untuk pertama kalinya. Tapi aku yakin, insyaAllah dia bakalan baik-baik aja selama perjalanan hingga sampai di Lampung lagi *Allah selalu bersama niat-niat baik, Ti*.

Dan yang paling penting, aku mau bilang makasi banget buat Resti yang udah mau menemani penyakit kepoku yang lagi kumat sewaktu duduk menunggu sholat Jumat usai tadi siang. Jadi ceritanya, tadi aku liat ada seorang wanita berkerudung lebar yang cantiknya pake banget *cantiknya dunia akherat!* lagi nunggu di depan Mesjid Salman. Pikiran pertama yang terlintas di kepalaku adalah, ini cewek cantik banget dan mata jadi susah berpaling dari mandangin muka dia *halah bahasanya*. Dan pikiran kedua yang terlintas plus dibarengi dengan penyakit kepo yang kumat adalah, siapa lelaki beruntung yang sedang dia tunggu selesai sholat Jumat? Dan ketika sholat Jumat usai dan para jamaah udah pada bubaran, aku sengaja memaksa Resti untuk tetap diam dulu duduk disana. Kenapa? Karena aku cuma pengen liat siapa lelaki beruntung yang sedang si wanita itu tunggu. Hah, ga penting banget kan ya? Iya, sungguh ga penting dan tidak untuk ditiru.

Selang beberapa menit, ada seorang lelaki yang mendekati si wanita tadi. Ah ganteng pula ternyata. Tapi berhubung Resti udah buru-buru mau sholat dan pergi ke stasiun, ya sudahlah keponya di-stop. Karena akhirnya keburu sadar, ini kayak kurang kerjaan banget penasaran sama orang. Tapi mau gimana lagi, ceweknya cantik dan wajahnya teduh banget *alesan aja, padahal kalau kepo ya kepo aja* -_____-

Sesampai di stasiun kereta api dan sembari menunggu Resti mengantri untuk menukar tiket, aku duduk di lantai stasiun bareng dengan penumpang-penumpang yang sedang menunggu kereta datang. The best part of being alone while I am in crowd *nah loh bahasa inggrisnya ngaco* adalah, aku bisa leluasa “membaca” orang-orang yang ada di sekitarku. Mulai dari mereka yang terkantuk-kantuk, ada yang sedang duduk termenung seperti memikirkan sesuatu, ada ibu yang sedang memarahi anaknya karena berlari kian kemari tanpa memakai alas kaki hingga sepasang kakek nenek yang masih aja mesra duduk dampingan sambil pegangan tangan nunggu kereta datang. Nah otomatis jadi senyum-senyum sendiri. Iyalah, ngeliat pasangan yang udah tua tapi tetap romantis jauh lebih menyenangkan daripada liat pasangan muda yang romantis.

Dan ternyata memang untuk membuat diri sendiri senyum kenyes-kenyes itu ga perlu nunggu sang pujaan hati bikinin puisi buat kita. Selesai dari stasiun, aku balik lagi ke kampus untuk suatu keperluan. Turun dari angkot di jalan Ganeca, aku sengaja buat milih untuk jalan di trotoar sebelah kiri *biasanya di trotoar sebelah kanan*. Dan di ujung trotoar, ada seorang ayah yang lagi memangku anaknya *kurang lebih umur 3 tahun* liatin kuda lagi makan rumput. Nah loh! Cuma kuda lagi makan rumput. Tapi si anak anteng aja duduk di pangkuan ayahnya. Ayahnya juga gitu. Kayaknya betah aja liatin kuda makan rumput. Dan ga tau kenapa, aura kasih-sayang mereka kenapa tiba-tiba kerasa banget ya? Sukseslah bikin aku senyum-senyum sendiri lagi sambil jalan *moga aja ga disangkain gila sama orang-orang*. Ternyata bener banget apa yang dibilang sama orang-orang bijak. Bahagia itu simpel. Sesimpel si ayah yang lagi mangku anaknya walau cuma lagi liatin kuda makan. Dan ternyata bener lagi apa yang dibilang sama orang bijak, bahwasanya bahagia itu, senang itu, kita yang mutusin. Mau memililih bahagia dari hal-hal yang ribet, atau mau bahagia dari hal-hal sederhana tapi sarat makna?

Dan yang terpenting dari semua itu adalah, seberapa mau kita mem-peka-kan hati untuk hal-hal kecil yang ada disekitar kita? Happines is a choice!! *Iya iya, ini nulis juga sambil ngingetin ke diri sendiri juga*

*Jadi apa hubungannya kepo sama bahagia? Ga ada satupun. Yang keponya jangan ditiru, yang bahagianya boleh dicobain :-D*

With love,

Salam Semangat!!!

4 thoughts on “Sesimpel Kuda Makan Rumput

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s