Di Penghujung 6

Wahai Allah, detik ini aku hanya ingin mengucap syukur sebanyak-banyaknya.

Untuk semua nikmat yang tak akan pernah mampu aku hitung.

Untuk semua kasih sayang dan cinta yang menyeruak jauh jauh ke dalam hati.

Untuk semua rindu yang jauh jauh makin membuat aku mencinta.

Mencinta Engkau tempat nan paling paling kokoh untuk bersandar.

Obat yang paling paling mujarab ketika sakit dan perih hati menyapa.

Untuk cinta yang paling indah yang tak pernah menyakiti.

Untuk janji yang paling aku genggam erat karena Engkau pastiΒ  menepatinya.

Untuk semua harapan yang aku titipkan kepada Engkau wahai yang Maha Perkasa, sebaik-baiknya tempat kembali

Untuk nikmat kembali dan mendapat ketenangan hanya dengan memejamkan mata kemudian mengeja namaMu.

Untuk nikmat sujud yang berurai tangis ketika aku sadar aku terlalu kotor dan hina untuk dengan pongah sempat melupakanMu.

Untuk nikmat kesendirian yang nyatanya sama sekali tak terasa sepi karena ada Engkau disana.

Teruntuk Ayah dan Ibu, manusia hebat yang senantiasa menyayangi, yang tak pernah lupa mendoakan.

Semoga Allah balas semua pengorbanan Ayah dan Ibu dengan kebaikan-kebaikan yang jauh jauh jauh lebih banyak. Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita bersama kembali di surgaNya

Terima kasih untuk semua teman, semoga doa dan kebaikan yang sama juga dilimpahkan untuk kalian semua.

Maka nikmat Engkau yang mana lagi yang aku dustakan?

Semoga Engkau berkenan menjadikanku manusia yang mempersiapkan hari kembali itu sebaik mungkin.

*tulisan acak adul di penghujung 6 November*

Advertisements

Kenapa?

Holla Readers!!!

Dan selamat malam minggu untuk semua makhluk bumi yang sedang menikmati malam bersama yang dicinta. Semoga hati kita masih tetap bersandar pada tempat yang Maha layak untuk dicinta. Aamiin.

Pukul 22.55 WIB. Segelas susu panas sudah dihabiskan, wajah dan kaki sudah dicuci bersih dan lampu sudah dimatikan. Seharusnya aku sudah tertidur lelap sodara-sodara. Ya, seharusnya. Kalau dirunut dari kegiatan mulai dari pagi hari tadi hingga pukul setengah 6 sore, ini memang udah saatnya buat tidur lelap karena kecapekan. Tapi terkadang memang sering kali, fisik suka ga sejalan sama pikiran. Saking ga sejalannya mereka malam ini, fisikku bilang lelah, pikiranku malah bilang belum mau lelap *tak maukah kalian akur? Fiuuh!*

Ya, akhirnya fisik memang rada ga punya kuasa untuk ga patuh sama pikiran. Dan inilah aku, di depan laptop mencoba untuk meng-update blog supaya ga kehilangan status sebagai blogger *halaah* dengan mata yang sebenarnya udah ngantuk, setelah membersihkan kamar yang sebenarnya udah bersih *yakin bersih?*. Oke, sebenarnya masih ada beberapa debu yang terlewatkan di atas meja belajar dan di antara deretan buku. Bolehlah yaa, dibersihan dikit sambil nunggu ini badan benar-benar tepar kecapekan terus tiba-tiba jatuh ketiduran sambil megang kain lap.

Memang akhir-akhir ini, yang namanya tidur berkualitas itu jarang banget ketemu. Dan pelampiasan efek belum-bisa-tidur itu adalah kamar. Kamar jadi lebih rapi, bersih dan wangi. Habis dirapihin, terus kamar disemprotin sama parfum yang udah lama ga kepake. Disemprotin di gorden jendela, di dalam lemari, di bantal, di guling, di selimut. Nah, puyeng deh tu ciumin wanginya yang semerbak. Dan setelah dipikir-pikir dan dari hasil sebuah perbincangan, maka disimpulkan bahwa aku ternyata kurang latihan fisik. Latihan fisik? Angkat barbel? Ummm, apa 2 kali dalam seminggu mengangkat seember jemuran dari lantai 3 ke lantai 4 itu masih kurang berat? *Ya kaliiii berat, Continue reading