Kangen

Holla Readers!!

Ga tau harus mulai darimana *mendadak speechless* karena lagi-lagi udah sekian lama ini blog ga update lagi. Entah angin apa yang sedang berhembus, selalu saja ada hambatan ketika aku mencoba untuk menulis. Mulai dari malas buka laptop, ada ide tapi tiba-tiba aja kehilangan ilmu buat ngerangkai kata-kata, udah kangen kepengen nulis tapi malas banget untuk memulai dengan alasan sinyal internet yang sangat abal-abal. Jadi ceritanya percuma aja nulis kalau ujung-ujungnya ga bisa langsung dipublish di blog. Lihatah sodara-sodara, betapa naifnya alasan-alasan diatas. Kalau diteliti lebih teliti oleh Bibi Titi Teliti, inti dari semua itu sebetulnya ya malas.

Dan kemaren sewaktu makan siang menjelang malam di sebuah tempat makan yang menyediakan free wifi *tentu saja langsung dimanfaatkan sepenuh hati untuk online*, aku sempat membaca beberapa postingan terbaru dari teman-teman sesama blogger. Salah satunya tulisan punya si Pepi alias randompeps. Di tulisan ke sekian *lupa pep, hehe*, Pepi nulisin gini di akhir tulisannya : “gue ga akan mencari alasan untuk malas menulis”. Aaawww, ini telinga berasa dijewer. Suasana mendadak mendung, senyap dan sunyi. Mendadak ingat blog yang udah sekian lama ga ditulisi. Padahal ini hati dan pikiran punya buanyaaaaakk banget cerita yang pengen dibagiin dengan Readers semua. Tapi entahlah, apa daya tangan tak sampai *mau meluk gunung ya dek?*😀

Jadi singkat cerita, Alhamdulillah aku sekarang udah mendarat ria jadi pendatang di kota kembang Bandung jadi mahasiswa lagi. I just wanna say hello (again) to Bandung. Kenapa again? Karena kira-kira 5 tahun yang lalu, aku udah pernah juga jadi pendatang di Bandung buat ikutan bimbingan belajar buat masuk SNMPTN. Tapi berhubung waktu itu masih imut, unyu-unyu dan masih manja minta ampun ketergantungan sama orangtua alias ga kuat pisah jauh darik kampung halaman, niat buat ngelanjutin kuliah di Bandung dengan senang hati dibatalkan dan Padang akhirnya menjadi takdir aku untuk melanjutkan kuliah setelah SMA. Dan sekarang, ujung-ujungnya aku kembali kesini. Kalau kata kakak sepupuku, aku ditakdirkan balik lagi ke Bandung buat menjemput jodoh. Katanya dulu dipisahin karena mungkin memang belum waktunya buat ketemu, dan sekarang Allah deketin lagi dengan jalan aku ngelanjutin program Magister di Bandung *senyum kenyes-kenyes*. Allahu’alam *padahal dalam hati bilang amin berkali-kali, kan so sweet banget lulus kuliah disini plus dapat jodoh*. Hehehee😀

Dan Ibu tetap jadi primadona dalam serangkaian langkah baru yang aku ambil sekarang. Selalu akan jadi primadona dalam setiap hal yang aku lalui. Dulu sewaktu merantau ke Bandung untuk pertama kali, beliau ikut mengantarku hingga ke rumah kost yang aku tempati. Mulai dari membelikan seprai, karpet, keset, beras, telur, minyak goreng dan seabrek-abrek tetek bengek kebutuhanku waktu itu. Walaupun setelah melengkapi semua kebutuhanku dan kembali pulang ke kampung halaman, beliau mengaku tidak henti-hentinya menangis karena juga merasa tidak sanggup untuk berpisah denganku *dan fakta ini baru aku ketahui akhir-akhir ini*. Ujung-ujungnya, aku sama sekali tidak menetap lama di Bandung. Ga nyampe satu bulan, berhubung hampir setiap malam aku menangis teringat ayah dan Ibu, aku pun berbalik pulang ke kampung dan memutuskan untuk kuliah di Padang. Ga kebayang udah berapa banyak biaya yang dikeluarin orangtua waktu itu. Mereka marah? Yap, betul sekali. Mereka tidak marah sama sekali. Bahkan tetap saja, hal yang terbaik untuk mereka adalah melihat kita bahagia. Apapun itu.

Perjalanan merantau ke Bandung untuk kedua kalinya, Ibu tetap bersikukuh untuk mengantarkanku hingga ke rumah kost. Bahkan setelah sampai di rumah kos, Ibu lebih pertama tau dimana warung untuk membeli beras di sekitar rumah kost dibandingkan aku. Beberapa saat setelah sampai di rumah kost, hal pertama yang Ibu lakukan adalah keluar sendirian tanpa sepengetahuan aku dan mulai menjajaki lokasi sekitar sana. Sampai akhirnya beliau kasih tau aku dimana letak mesjid dan warung kebutuhan sehari-hari ga beberapa jauh dari lokasi rumah kost.

Sorenya, walaupun hujan, beliau tetap bersikukuh untuk pergi denganku membeli perlengkapan lain yang belum dibeli. Mulai dari rak sepatu, rak piring sampai jemuran handuk. Malamnya dengan senang hati beliau mau berjalan-jalan denganku untuk mencari tempat membeli lauk dan akhirnya menemukan sebuah rumah makan Padang kira 50 meter dari gang rumah kost. Paginya beliau rewel mengingatkanku untuk menjaga pola dan waktu makan, dan masih banyak serangkaian perlakuan lainnya yang membuatku merasa masih seperti anak kecil yang semuanya masih diurusi oleh beliau *mendadak mellow dan speechless, kangen Ibu*.

Lalu pada akhirnya, selalu saja pertanyaan yang sama. Apa yang sudah aku lakukan untuk membahagiakan beliau?

“Bahkan, jika seluruh hidupku aku persembahkan hanya untuk membalas semua pengorbananmu, tidak akan pernah menjadi cukup untuk membalas semuanya. Tidak akan pernah menjadi cukup”

With Love,

Salam Semangat!!!

11 thoughts on “Kangen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s