Selama Engkau Masih di Hati

*peyuk peyuk cium blog ini dulu, sambil dibersihin pake kemoceng, karena udah lama banget ditinggalin*

Holla Readers!!!

*peletak peletuk jari, ngelemesin tangan sama leher, siap-siap nulis lagi*

Sebenarnya rada bingung mau bilang apa di awal postingan yang satu ini. Udah lamaaaaaa banget aku ga nulis. Benar-benar ga ada nulis sejak postingan yang terakhir. Bahkan sekedar buat orat-oret untuk dijadiin draft pun ga ada. And please, don’t ask me why *emang yang nanyain siapa coba? GR aja*😀

Jadi ceritanya, aku udah resmi resign dari kantor tempat aku kerja kemaren. Alhamdulillah, salah satu pikiran-pikiran yang ada dalam tulisan yang ini, terealisasikan sudah. Aku udah lulus tes buat lanjut kuliah lagi dan insya Allah dalam minggu ini bakalan pindah ke Bandung. Semua barang-barang milikku sudah dipindahkan dari Siak dan Pekanbaru menuju kampung halaman, Lubuk Basung. Mulai dari kasur, lemari odong-odong, karpet, kipas angin, setrikaan plus motor. Mungkin karena itu juga kali ya, makanya aku jarang update tulisan. Sejak ikut tes masuk program magister ini sampai berita lulusnya, terus ribet ngurusin surat pengunduran diri, sibuk packing-packing dan lain-lain. Ternyata semuanya cukup menyita waktu dan pikiran Readers, serius *padahal cuma ngarang-ngarang alasan aja* Hehehehe…

Senang?

Iya, karena seperti ada beban yang hilang setelah resmi resign dari itu kantor. Karena memang pada dasarnya, banyak hal yang tidak sesuai dengan hati nurani yang aku temui selama bergaul di kantor tersebut. Disamping itu, Allah seakan udah kasih jawaban. Seperti doaku, kalau seandainya keputusan buat ngelanjutin kuliah ini baik buat aku, buat jodoh aku nanti *eheemmm*, buat orangtua dan masa depan aku, mohon diluluskan ya Allah. Tapi kalau seandainya keputusan ini tidak baik untuk aku, buat jodoh aku *eheemm lagi*, buat orangtua dan masa depan aku, tolong jangan dilulusin tesnya ya Allah, dan mohon bikin aku ikhlas sama takdir Engkau, dan aku ga akan coba lagi ikut tes susulan biar bisa lulus. Nah gitu doanya Readers, doa yang sama persis juga aku ucapkan ketika aku tes di Pertamina dulu. Udah, pas tinggal satu tes lagi, gagal. Blek. Kecewa? Nggak. Kan di doanya udah jelas.

Sedih?

Pastinyaaaaa. Berpisah dengan keluarga di Pekanbaru yang selama ini udah jadi tempat berkeluh kesah merupakan bagian yang cukup berat. Dan bagian yang paliiiing bikin sedih itu adalah mesti jauh dan ga akan bertemu dalam waktu yang cukup lama dengan Afif, keponakanku. Iya, itu adalah bagian yang paling bikin sedih. Selama satu tahun ini, selama day-off 5 hari, aku selalu ke Pekanbaru, ke rumah kakak sepupu dan bertemu ponakan-ponakan kece kayak tantenya *Readers muntah massal* dan imut ini. Dan berpisah dengan mereka, terutama si bungsu Afif, menjadi bagian yang paling bikin dadaku sesak.

dhiya

afif

Semalam sebelum hari keberangkatanku pulang kampung:

“Afif, Tante besok pulang kampung ke Lubuk Basung, terus Tante ga ada lagi balik ke Pekanbaru.”

“Mana pulak?” *dengan ekspresi polos*

“Iyaa Fif, terus jadinya Tante jauh dari Pekanbaru.”

“Kan bisa, Tante naik travel aja ke Pandau (Pandau adalah wilayah perumahan rumah sepupu aku)” *dengan mulut yang dimonyong-monyongkan, tampang sedikit sewot*

“Ga bisa naik travel deeekkk..”

“Kalau ga bisa, Tante naik taksi aja” *tampangnya makin sewot*

“Ga bisa juga naik taksi..”

“Ya udah, kalau gitu Tante naik pesawat aja ke Pandau” *tangannya niruin pesawat yang lagi landing*

Plus, malam itu dia ga mau peluk aku. Padahal besok paginya, aku udah berangkat pulang kampung. Walaupun udah dipaksa, dia tetap ga mau. Sediiih banget. Mataku udah mulai berkaca-kaca dan berhubung Afif ngeliatin aku dengan tampang sedikit cemas, maka aku berusaha buat nahan air mata biar ga jatuh. Ditelen sendiri deh tuh air mata. Glek. Affiiifff, Tante bakalan kangeeen banget sama Afif😦

Gamang?

Iya, diantara rasa senang, sedih dan bersemangat untuk menaklukan tantangan baru di tempat baru, terselip rasa gamang. Gamang karena pikiranku sekarang dipenuhi dengan pertanyaan “Apa aku bisa? Apa aku bisa? Gimana kalau ternyata begini? Gimana kalau ternyata begitu?”

Dan…hhuufftt, sudahi perasaan kalau-kalau ini. Hanya saja, selama Allah masih ada di hati, tidak ada yang perlu ditakutkan bukan? Bismillah saja, dan bisaaaa!! Insya Allah😀

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

*Ya, dan hanya dengan mengingatMu aku tenang*

With Love,

Salam Semangat!!!

 

25 thoughts on “Selama Engkau Masih di Hati

  1. To : Fanny…
    Padahal sayang x loh, resign dari per****na…

    Tapi S2 ny lebih bagus…

    Selamat bejuang Fan, smoga makin sukses cpat dpat Magisternya.

  2. Selamat mbak, setelah setahun gak posting akhirnya posting lagi ya. Kan terakhir nulis tahun 2012😀

    semoga mereka diberi ketabahan dan kekuatan saat ditinggal agar paham bahwa hidup itu penuh dengan pilihan dan pilihan🙂

  3. wah wah wah.,.,klo ga bisa tante naik monorail aja kan cpat sampai di pandaunya, cedih afifnya di tinggal ama tante fanny.,.afif pandai begaya ya, ga kek tantenya #eh :p hahaha,.,.

    ccciiiiieeeee,.,.,harus bisa ny,.,ndak buliah gamang-gamang.,.yakinkan pasti ny bisa, pasti itu jalan yang dipiliah untuak any,.,😀

    • hwhwhw,.,.sabar pas libur bisuak bisa sobok jo afif liak,.,.,.hehe tante fanny klo diphoto se takuik pasti gaya photonyo kek tersangka :p #kabur wkwkwk

      amiiinnn.,.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s