Cerita Abal-abal

Holla Readers!!!

*uhuk uhuk uhuk uhuuuuukkk!!!*

Minggu-minggu pertama di Bandung, dengan manis aku jalani bersama si virus batuk yang sudah hampir 1 minggu ini menggerogoti tenggorokan. Jangan tanya rasanya bagaimana. Selain bikin dada sakit dan tenggorokan geli seperti kemasukan debu, si virus batuk ini juga amat sangat sukses membuatku merasa tidak enak hati selama di kelas. Ditengah suasana hening ketika dosen menjelaskan pelajaran, tanpa permisi si virus batuk ini menggelitik tenggorokanku hingga suara uhuk uhuk fals dengan indahnya menghiasi keheningan kelas. Lagi-lagi, jangan tanya bagaimana rasanya menahan si uhuk uhukk fals ini agar tidak keluar. Rasanya begituuu menyiksa. Apakah sekarang paru-paru dan tenggorokanku sedang beradaptasi dengan udara Bandung? Atau jangan-jangan sebenarnya bulu hidungku sedang beradaptasi membuat desain perlindungan baru terhadap debu-debu yang aku hirup. Bisa jadi, dulunya cuma bisa menyaring debu yang ukurannya 0.5 mikrometer, sekarang ditingkatkan jadi 0.01 mikrometer. Keren *khayalan tingkat tinggi*. Tuhan, mohon sembuhkan aku *dengan tampang memelas*. Tapi ya sudahlah *sambil tarik nafas panjang*, kalau udah ditakdirkan sakit seperti ini mau diapakan lagi. Semoga aja bisa sabar dan sakitnya jadi penghapus dosa. Amiiin 😀

Itu baru cerita pertama.

Cerita kedua. Aku tidak jadi ambil program studi Keselamatan Kesehatan Lingkungan (KKL) seperti yang aku ceritakan disini, Readers. Wah, jadi malu. Padahal dulu kan banyak banyak yang komen bilang selamat karena aku telah mengambil keputusan terbaik dari kegalauan-kegalauan program studi. Ternyata, semuanya berubah begitu aja. Karena rencana tesisku sama sekali tidak ada hubungannya dengan KKL, maka bertukar haluanlah aku ke program studi Teknologi dan Manajemen Lingkungan (TML), sesuai dengan rencana tesis. Lagi-lagi, bukti kalau tangan Allah bekerja. Masih ingat artikel yang ini kan Readers? Biarkan kehidupan mengalir dan di saat yang tepat, akan selalu ada saja kejadian-kejadian yang membelokan kita ke arah takdir yang ditentukan Allah. Dan aku semakin mantap dengan pemahaman ini.

Dan tadi siang, aku nelpon mamanya Afif. Tentu saja, tak lupa menanyakan kabar si gigi batik alias Afif. Menurut cerita kakak sepupuku ini, beberapa hari yang lalu Afif pernah menanyakan kapan aku balik ke Pekanbaru lagi. Kata Mamanya, lebih kurang percakapannya seperti ini :

“Ma, Tante Fanny tu masih lama lagi balik ke Pekanbaru?”

“Kenapa? Afif kangen ya sama Tante Fanny?”

“Hehe..iya *sambil garuk-garuk kepala*”

Whuuuuaaa, rasanya pengen terbang dalam sekejap ke Pekanbaru dan memeluk erat si Afif. Kangeeen banget pengen jemput dia pulang sekolah sambil nanyain : “Afif hari ini dapat bintang ga? Terus tadi jadi imam atau ga pas sholat jamaah?”. Terus sampe dirumah, ganti baju sekolahnya sama baju rumah. Biasanya setelah itu, dia selalu minta dibuatkan susu di botol dotnya dan akhirnya jatuh tertidur. Dan aku juga kangen kepengen ngapalin juz Amma bareng sama si Afif. Jangan salah Readers, walaupun masih berumur 5 tahun, Afif hapal lebih banyak surat di Juz Amma dibandingkan aku. Kakak Afif, Dhiya, masih kelas 5 SD, malah sudah hapal juz 29 dan 30. Malu sangat. Dan jujur, Dhiya dan Afif jadi motivasi tersendiri buat aku untuk lebih banyak lagi menghapal Al-Qur’an, ya walaupun sekarang masih berusaha buat ngapalin juz Amma dulu. 😀

 IMG_0938

 Ini foto lucu ya Readers? Si Afif kayak nungguin apaa gitu..hehehee..:-D

With Love,

Salam Semangat!!!

Kangen

Holla Readers!!

Ga tau harus mulai darimana *mendadak speechless* karena lagi-lagi udah sekian lama ini blog ga update lagi. Entah angin apa yang sedang berhembus, selalu saja ada hambatan ketika aku mencoba untuk menulis. Mulai dari malas buka laptop, ada ide tapi tiba-tiba aja kehilangan ilmu buat ngerangkai kata-kata, udah kangen kepengen nulis tapi malas banget untuk memulai dengan alasan sinyal internet yang sangat abal-abal. Jadi ceritanya percuma aja nulis kalau ujung-ujungnya ga bisa langsung dipublish di blog. Lihatah sodara-sodara, betapa naifnya alasan-alasan diatas. Kalau diteliti lebih teliti oleh Bibi Titi Teliti, inti dari semua itu sebetulnya ya malas.

Dan kemaren sewaktu makan siang menjelang malam di sebuah tempat makan yang menyediakan free wifi *tentu saja langsung dimanfaatkan sepenuh hati untuk online*, aku sempat membaca beberapa postingan terbaru dari teman-teman sesama blogger. Salah satunya tulisan punya si Pepi alias randompeps. Di tulisan ke sekian *lupa pep, hehe*, Pepi nulisin gini di akhir tulisannya : “gue ga akan mencari alasan untuk malas menulis”. Aaawww, ini telinga berasa dijewer. Suasana mendadak mendung, senyap dan sunyi. Mendadak ingat blog yang udah sekian lama ga ditulisi. Padahal ini hati dan pikiran punya buanyaaaaakk banget cerita yang pengen dibagiin dengan Readers semua. Tapi entahlah, apa daya tangan tak sampai *mau meluk gunung ya dek?* 😀

Jadi singkat cerita, Alhamdulillah aku sekarang udah mendarat ria jadi pendatang di kota kembang Bandung jadi mahasiswa lagi. I just wanna say hello (again) to Bandung. Kenapa again? Karena kira-kira 5 tahun yang lalu, aku udah pernah juga jadi pendatang di Bandung buat ikutan bimbingan belajar buat masuk SNMPTN. Tapi berhubung waktu itu masih imut, unyu-unyu dan masih manja minta ampun ketergantungan sama orangtua alias ga kuat pisah jauh darik kampung halaman, niat buat ngelanjutin kuliah di Bandung dengan senang hati dibatalkan dan Padang akhirnya menjadi takdir aku untuk melanjutkan kuliah setelah SMA. Dan sekarang, ujung-ujungnya aku kembali kesini. Kalau kata kakak sepupuku, aku ditakdirkan balik lagi ke Bandung buat menjemput jodoh. Katanya dulu dipisahin karena mungkin memang belum waktunya buat ketemu, dan sekarang Allah deketin lagi dengan jalan aku ngelanjutin program Magister di Bandung *senyum kenyes-kenyes*. Continue reading

Selama Engkau Masih di Hati

*peyuk peyuk cium blog ini dulu, sambil dibersihin pake kemoceng, karena udah lama banget ditinggalin*

Holla Readers!!!

*peletak peletuk jari, ngelemesin tangan sama leher, siap-siap nulis lagi*

Sebenarnya rada bingung mau bilang apa di awal postingan yang satu ini. Udah lamaaaaaa banget aku ga nulis. Benar-benar ga ada nulis sejak postingan yang terakhir. Bahkan sekedar buat orat-oret untuk dijadiin draft pun ga ada. And please, don’t ask me why *emang yang nanyain siapa coba? GR aja* 😀

Jadi ceritanya, aku udah resmi resign dari kantor tempat aku kerja kemaren. Alhamdulillah, salah satu pikiran-pikiran yang ada dalam tulisan yang ini, terealisasikan sudah. Aku udah lulus tes buat lanjut kuliah lagi dan insya Allah dalam minggu ini bakalan pindah ke Bandung. Semua barang-barang milikku sudah dipindahkan dari Siak dan Pekanbaru menuju kampung halaman, Lubuk Basung. Mulai dari kasur, lemari odong-odong, karpet, kipas angin, setrikaan plus motor. Mungkin karena itu juga kali ya, makanya aku jarang update tulisan. Sejak ikut tes masuk program magister ini sampai berita lulusnya, terus ribet ngurusin surat pengunduran diri, sibuk packing-packing dan lain-lain. Ternyata semuanya cukup menyita waktu dan pikiran Readers, serius *padahal cuma ngarang-ngarang alasan aja* Hehehehe…

Senang?

Iya, karena seperti ada beban yang hilang setelah resmi resign dari itu kantor. Karena memang pada dasarnya, banyak hal yang tidak sesuai dengan hati nurani yang aku temui selama bergaul di kantor tersebut. Disamping itu, Allah seakan udah kasih jawaban. Seperti doaku, kalau seandainya keputusan buat ngelanjutin kuliah ini baik buat aku, buat jodoh aku nanti *eheemmm*, buat orangtua dan masa depan aku, mohon diluluskan ya Allah. Tapi kalau seandainya keputusan ini tidak baik untuk aku, buat jodoh aku *eheemm lagi*, buat orangtua dan masa depan aku, tolong jangan dilulusin tesnya ya Allah, dan mohon bikin aku ikhlas sama takdir Engkau, dan aku ga akan coba lagi ikut tes susulan biar bisa lulus. Nah gitu doanya Readers, doa yang sama persis juga aku ucapkan ketika aku tes di Pertamina dulu. Udah, pas tinggal satu tes lagi, gagal. Blek. Kecewa? Nggak. Kan di doanya udah jelas.

Sedih?

Pastinyaaaaa. Berpisah dengan keluarga di Pekanbaru yang selama ini udah jadi tempat berkeluh kesah merupakan bagian yang cukup berat. Dan bagian yang paliiiing bikin sedih itu adalah mesti jauh dan ga akan bertemu dalam waktu yang cukup lama dengan Afif, keponakanku. Iya, itu adalah bagian yang paling bikin sedih. Selama satu tahun ini, selama day-off 5 hari, aku selalu ke Pekanbaru, ke rumah kakak sepupu dan bertemu ponakan-ponakan kece kayak tantenya *Readers muntah massal* dan imut ini. Dan berpisah dengan mereka, terutama si bungsu Afif, menjadi bagian yang paling bikin dadaku sesak.

dhiya

afif

Semalam sebelum hari keberangkatanku pulang kampung:

“Afif, Tante besok pulang kampung ke Lubuk Basung, terus Tante ga ada lagi balik ke Pekanbaru.”

“Mana pulak?” *dengan ekspresi polos*

“Iyaa Fif, terus jadinya Tante jauh dari Pekanbaru.”

“Kan bisa, Tante naik travel aja ke Pandau (Pandau adalah wilayah perumahan rumah sepupu aku)” *dengan mulut yang dimonyong-monyongkan, tampang sedikit sewot*

“Ga bisa naik travel deeekkk..”

“Kalau ga bisa, Tante naik taksi aja” *tampangnya makin sewot*

“Ga bisa juga naik taksi..”

“Ya udah, kalau gitu Tante naik pesawat aja ke Pandau” *tangannya niruin pesawat yang lagi landing*

Plus, malam itu dia ga mau peluk aku. Padahal besok paginya, aku udah berangkat pulang kampung. Walaupun udah dipaksa, dia tetap ga mau. Sediiih banget. Mataku udah mulai berkaca-kaca dan berhubung Afif ngeliatin aku dengan tampang sedikit cemas, maka aku berusaha buat nahan air mata biar ga jatuh. Ditelen sendiri deh tuh air mata. Glek. Affiiifff, Tante bakalan kangeeen banget sama Afif 😦

Gamang?

Iya, diantara rasa senang, sedih dan bersemangat untuk menaklukan tantangan baru di tempat baru, terselip rasa gamang. Gamang karena pikiranku sekarang dipenuhi dengan pertanyaan “Apa aku bisa? Apa aku bisa? Gimana kalau ternyata begini? Gimana kalau ternyata begitu?”

Dan…hhuufftt, sudahi perasaan kalau-kalau ini. Hanya saja, selama Allah masih ada di hati, tidak ada yang perlu ditakutkan bukan? Bismillah saja, dan bisaaaa!! Insya Allah 😀

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

*Ya, dan hanya dengan mengingatMu aku tenang*

With Love,

Salam Semangat!!!