Pernah Tidak?

Holla Readers!!!

Pernah tidak kita merasakan jadi pesakitan yang menyesal atas kesalahan-kesalahan masa lalunya?

Pernah tidak kita merasakan jadi pencuri yang rasanya ingin sekali tangannya dipotong saja agar tuntas sudah penyesalan dan malu yang dia rasakan setiap kali dia mengingat Tuhan?

Pernah tidak kita merasakan menjadi pembunuh yang rasanya ingin sekali nyawanya diambil saja sebagai tebusan dosanya dan agar dia tidak lagi malu ketika waktu pertemuan dengan Rabbnya datang menghampiri?

Pernah tidak kita merasakan menjadi pelacur atau pezina yang rasanya ingin sekali punggungnya dicambuk berpuluh-puluh kali untuk membayar rasa sakit yang dia rasakan di setiap sujudnya karena menanggung perih dan malu atas dosa-dosanya?

Pernah tidak kita merasakan jadi pembohong yang telah melakukan kebohongan yang berakibat fatal, kemudian merasa sesak hatinya karena merasa sangat bersalah dan rasanya rela lidahnya dipotong saja agar lega sudah hatinya ketika berhadapan dengan Tuhannya?

Pernah tidak kita merasakan seperti mereka? Pendosa yang sesak hatinya, tiap hari menangis perih karena malu dan menyesal atas dosa-dosanya, bersujud dengan kondisi hidung yang tersumbat karena terlalu banyak menangis menanggung sesal, lalu hatinya tak kunjung berhenti bernafas penuh sengal hingga mendapatkan ampunan Tuhannya?

Bersyukurlah jika kita bukanlah salah satu diantara mereka, yang mempunyai masa lalu kelam yang harus mereka sesali hingga mati. Namun, bukankah sesak dan sengal mereka adalah bagian dari sujud taubat berkepanjangan mereka sepanjang malam?

Bersyukurlah jika masa lalu kita masih bersih. Namun sekalipun itu, kita tak punya hak sama sekali untuk mengutuki masa lalu mereka. Berbangga diri dengan masa lalu yang cemerlang dan merasa beriman paling baik. Karena siapa tahu, buliran-buliran air mata diantara doa dan sujud taubat nasuha yang mereka lakukan jauh lebih mulia di mata Tuhan. Lalu kita punya hak apa meremehkan mereka yang punya masa lalu kelam?

Allahu’alam.taubat

*tetiba muak dengan mereka yang merasa diri paling baik*

 With Love,

Salam Semangat!!!

58 thoughts on “Pernah Tidak?

  1. menyesal, siapa yang tidak pernah merasakannya,.tidakkah menyesal selalu letaknya di akhir? klo lah menyesal itu diawal letaknya,tentu tidak ada lagi kata menyesal dalam hidup ini,.😀
    waaawww.,.ampun uni.,.ndak awak urangnyo do.,.si A tu tadi mangarajoan.,. awak liek liek dari jauah se nyo ni.,. :p

    “Lalu kita punya hak apa meremehkan mereka yang punya masa lalu kelam?” setuju sangat jo nan iko.,.tangguang tangguang ka maremehkan urang baa kok ndak pas dari ketek se nan nyo remehkan?atau mungkin nan diremehkan ternyata maso keteknyo lebih mulia dari inyo.,.wakakaka😀

  2. Trying to answer the question: barangkali tidak pernah. Tapi merasa penasaran dengan apa yang mereka rasakan dan penyesalan yang menghantui: pernah, atau mungkin sering.

    Trying to share additional info: Dalam buku Riyadhus Sholihin, dalam BAB Taubat, ditulis dengan sangat indah betapa mulianya bertaubat. Bahkan, Allah sangat gembira ketika ada seorang hamba yang bertaubat melebihi gembiranya seorang yang sedang di dalam perjalanan di padang pasir dengan mengendarai seekor onta yang ketika dia turun dari ontanya tiba-tiba tunggangannya tersebut lari meninggalkannya. Karena putus asa maka sang musafir pun beristirahat di bawah sebuah pohon, namun… *hmm… lanjutannya baca sendiri aja yaa…:mrgreen:

    • YA, semoga jangan sampai merasakan da Yori…tapi untuk sekedar bersimpati atau saling menghargai rasanya ga sulit…

      Nah, kalau cerita itu fny pernah dengar uda..setelah itu dia menemukan untanya, rasanya musafir itu senaaaaannng sekali. Rasa bahagia Allah terhadap hamba_nya yang kembali bertaubat itu lebiiiih lebiih besar daripada rasa senangnya si musafir setelah menemukan untanya kembali..heheee..Allahu’alam🙂

    • Hehe… You knew it…
      Saking bahagianya, dia berujar Wahai Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu…. Ternyata dia salah menyebutkannya karena terlalu bahagianya. Dan Allah lebih bahagia melebihi kebahagiaan musafir tersebut jika seseorang bertaubat kepadanya.

      *akhirnya, ceritanya lengkap juga:mrgreen:

    • Sebagian ulama sudah ada yang mengharamkan rokok mbak, mengingat begitu besar bahaya rokok bagi kesehatan manusia. Menurut penelitian, ada ribuan jenis bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam sebatang rokok.

      Namun perlu juga kita ketahui bahwa ada sebab-sebab psikologis di balik kecanduan seseorang terhadap rokok. Banyak orang melarikan diri ke rokok untuk melupakan sejenak permasalahan hidup mereka. Memang, bagi mereka yagn kecanduan, nikotin menimbulkan semacam relaksasi semu pada diri mereka. Sangat disayangkan sesuatu yagn semu itu menyebabkan orang kecanduan hingga mereka sulit untuk berhenti.

      Sebenarnya, ada terapi2 tertentu, seperti Emotional Freedom Technique, yang cukup mudah untuk dipelajari, baik oleh perokoknya sendiri ataupun orang lain yang terpanggil untuk membantu, namun kemauan yang kuat untuk berhenti tetap diperlukan

    • Iya, bahaya rokok memang banyak pak..wah, aku baru dengar yang terapi Emotional Freedom Technique itu pak..nanti aku coba cari info, soalnya ayahku suka merokok dan susah banget buat berhenti..

      Setuju pak, yang paling utama itu keinginan si perokok itu sendiri buat berhenti…terima kasih penjelasannya pak🙂

  3. ah begitu banyak dosa saya mba, terimakasih ya sudah mengingatkan, memulai menambah hal hal yang berguna, berharap Sang Maha Cinta berkenan memberkan Ridha dan berkahnya, amin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s