Undangan Pernikahan

Holla Readers !!!

Nah, lagi-lagi masalah jodoh plus pernikahan.

Pagi ini, ada sebuah undangan pernikahan ditempel di papan pengumuman kantor. Bermotifkan batik warna biru tua. Cantik sekali. Sambil bolak-balik dari kubikel ke mesin fotokopi *pekerjaan aku merangkap sekalian jadi tukang fotokopi di kantor*, aku sempatkan berhenti sebentar untuk membaca undangan pernikahan tersebut. Kemudian yang terjadi berikutnya adalah penyakit galau yang selama ini aku idap, mendadak kambuh dan kronis. Sambil menangis terisak-isak, aku bertanya pada undangan itu. Giliran aku kapan? Giliran aku kapan? Kapaaaaannn???

Baiklah, tentu saja bukan itu yang terjadi sebenarnya.

Seperti lazimnya undangan pernikahan., di undangan pernikahan tersebut, tertulis nama kedua mempelai, orangtua dan keluarga dari kedua calon mempelai. Yang mana, semua nama yang tertera di undangan tersebut diikuti dengan gelar akademik mereka masing-masing. Dan entah kenapa, aku termenung cukup lama memandangi undangan tersebut, sambil bertanya heran kenapa nama-nama yang tercantum di undangan ini harus diikuti dengan gelar akademis?

Aku menulis postingan ini tanpa maksud untuk menyalahkan atau tidak menyukai mereka yang mencantumkan gelar akademis di belakang nama mereka di undangan pernikahan. Tentu saja, itu adalah hak mereka untuk mencantumkan gelar akademis atau tidak di undangan pernikahan mereka. Toh, itu hasil susah payah mereka dalam menamatkan kuliah, pernikahan mereka, undangan mereka, duit pun duit mereka *ga mungkin pake duit aku kan?*.

Tapi ini semua membuatku mulai merancang bagaimana desain dan isi undangan pernikahan milikku dan si dia *ya ampun, si dia-nya aja belum jelas siapa*. Setelah menimbang-nimbang dengan timbangan kue, maka diputuskan *semoga ga berubah nantinya*, aku ingin namaku, nama pasanganku, nama ayah dan ibu serta nama keluargaku tidak ditulis dengan embel-embel gelar akademis. Cukup nama saja. Tidak ada tambahan yang lain-lain.

Kenapa?

Sebenarnya bukan apa-apa. Hanya saja, rasanya lebih syahdu kalau namaku dan namanya ditulis tanpa embel-embel tambahan. Karena menurutku, yang menikah itu adalah DIRI kami. Bukan GELAR kami.  Kemudian kedua belah pihak keluarga juga akan ikut “menikah”, bukan juga karena GELAR. Tapi atas dasar saling mempercayakan anaknya kepada keluarga yang baru dan atas dasar bahwa ada seseorang yang sebelumnya asing menjadi dipercaya, disayangi dan diterima sebagai pendamping hidup anak mereka dan anggota baru dalam keluarga mereka.

Orang-orang tidak perlu tahu, apa gelar yang aku dan pasanganku punya. Tidak perlu tahu, seberapa tinggi jenjang pendidikan yang telah aku dan pasanganku raih. Cukup, mereka hanya perlu tahu kami mengundang mereka dengan penuh rasa sukacita dan aku berharap mereka mendoakan kami agar langgeng sampai kakek-nenek dan bisa langgeng juga disatukan kembali di jannah-nya Allah.

Lagipula ketika ijab kabul, ketika Ayah menikahkanku, gelarku tidak akan disebut kan?

Semuanya balik lagi ke personal, masing-masing. Semua orang punya haknya masing-masing untuk membuat undangan pernikahannya seperti apa. Kembali lagi, sebenarnya tidak ada masalah apapun. Aku mohon maaf jika ada yang merasa disenggol, disinggung atau semacamnya. Dan berikut salah satu desain undangan pernikahan yang menurutku cantik dan simpel. Tapi nanti, yang baju adat Jawanya diganti sama baju adat Minangkabau. Uuuuhh, bagus dan unik.

Sumber gambar : http://cantiqblue.blogspot.com/2012/06/sudah-lama-rasanya-aku-ga-ngepost.html

Ini ngapain jadi ngomongin pernikahan? Calonnya belum ada, malah ngomongin undangan pernikahan *getok kepala sendiri*. Ada yang bersedia dengan sepenuh jiwa raga untuk mendesainkan undangan pernikahanku nanti? Imbalannya adalah…………….doa semoga kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak lagi oleh Allah *modal gratisan*. Huehehee..:-D

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)

With Love,

Salam Semangat !!!

35 thoughts on “Undangan Pernikahan

  1. hehe…. postingannya membawaku berkelana ke alam lain berpuluh tahun silam. Idiih….. asyik deh ketika untuk pertama dan terakhir dinikahkan.

    Boleh nanya nggak ? di undangan itu ada kode “amplop” atau “celengan” ?

    Saya paling risih kalau lihat undangan ada kode tersebut. Saya berjanji pada diri sendiri dan istri kalau kelak menikahkan putri kecilku, di amplop akan kutulis “KALAU NYUMBANG, LEBIH BAGUS TIDAK USAH DATANG”. Hehe…. redaksinya mungkin diperhalus dikit lah…

    Iiiiih…. sombong amat yah ?????

    Bukan sombong atau tidak butuh sumbangan. Saya ingin tunjukkan ke anakku bahwa aku telah mengikutinya untuk memilih jodoh yang terbaik. Dalam pernikahan hanya ada cinta dan komitmen, tak ada lagi kasta, gelar, apalagi transaksi bisnis – keuangan.

    Maaf kalau kurang berkenan.

    • Wah, ide bagus tuh mas..kalau nyumbang, lebih bagus tidak usah datang..hihihiii..perasaan ga ada gambar amplop atau celengan deh mas..hehee..

      Nah, setuju sama kalimat terakhir komen mas ini..tak ada kasta, gelar, atau transaksi bisnis. Tapi, di kampung aku tiap-tiap acara nikahan pasti selalu ada tempat buat nampung amplop-amplop gitu mas..:-D

  2. kita berpikiran serupa nih,andai aku yg nikah, juga nggak akan mau ditulis tulis di depan namanya, tapi rata rata begitu ya, kebanyakan yg ada🙂

    waktu buat Fanny Insya allah akan segera datang, menurutku ngak perlu risau deh soalnya tiap individu waktunya beda beda, sekarang nikmati dulu waktu saat msh sendiri sebelum saat indah itu datang😛

    • Tos dulu sama mbak Ely..

      Risau nggak sih mbak, tapi lebih kepada menuangkan apa yang tiba-tiba melintas di pikiran aku..hehee..iyaaaa mbak, aku menikmati banget masa-masa sendiri aku..saat dimana aku bisa bebas memilih mau ngapain yang terbaik utk aku..hihiii..karena postingan aku beberapa hari ini selalu masalah cinta dan jodoh ya mbak, makanya disuruh sabar? hihiii…:-D

  3. Waktu kakak nikah juga kepinginnya gitu. Nggak pakai nulis gelar S titik titik dibelakang nama mereka. Tapi bapak ibu yang kepengin. Nggak ngerti juga alesannya. Aku masih unyu waktu itu.

    Tahunya kakak akhirnya ngalah. Terserah bapak ibu aja katanya.

    Yah, mudah-mudahan mBak Fanny segera dapat calon ya..

    Sebenarnya dalam hati curiga ding, jangan-jangan udah ada calon.. Ayo kenalin dong… Atau takut direbut ya?😀

    • Iya..hal-hal yang seperti ini butuh didiskusikan juga sama orangtua, Ra..ada hubungannya sama prestise juga kali ya…

      Amiinn..beloommm Ra, beloomm..suer deh belom..doain aja segera..hihiii..idih, siapa yang sembunyiin si calon itu Ra? Ga ada yang bisa aku sembunyiin *self puk puk*..ntar ya, kalau udah ada aku kenalin *kayak yang tetanggaan aja*😀

  4. hihihi..iya yah fan..kadang diselain nyebutin gelar semua sanak keluarga,dr kakak,adek,om,tante,sepupu ada juga yg sampe nyebutin jabatan/kerjaannya lho fan😀

    semoga kita bisa segera mencetak undangan juga yah fanny😀

    • Iya, kakak juga baru sadar trnyta kakak adalah orang yang visioner *kepalin tinju di udara*..pemikirannya jauah *kejauahan lebih tepatnya* ke depan…waaahh, eh kok naik UFO? ga naik sapu terbang aja emen?hehee…*kirain kakek lampir*

  5. Bnar ny penulisan gelar d undangan hanya biar orang tau aja…lebihnya y cma jd pmbicaraan ja “ooh istrinya dokter, ooh suaminya tamatan ekonomi” hahaha eeaaa ide yang bagus..nama tnpa pnulisan gelar..bleh jga tu dcba…waah jadi desainer y, jd yang namanya tertera dundangan aja deh #eh hahaha :p

  6. Bukanlah deretan gelar yang melanggengkan sebuah pernikahan, namun komitmen kedua pasangan untuk senantiasa tegar dalam menghadapi gelombang ujian……………. Sekali melangkah janganlah menyerah….karena semua akan terasa indah pada waktunya….

    Salam 🙂

  7. banyak teman saya yang minggu-minggu ini mengakhri masa lajangnya, kadang sedikit sedih juga ketika datang ke resepsi mereka, karena mengingat saya yang tak kunjuung diberi istri juga, hehehe

  8. Eh, mencari tukang desain undangan?
    Saya bersedia looh.. Seriyusan.😀
    hihihi…😀
    Kalo saya menikah dulu gelar tetep dipakai. Permintaan kedua orang tua. Jadi ya dituruti sajah karena desain undangan kami bener-bener ga lazim di kalangan orang tua. Hasil comot sana sini sih tapi alhamdulillaahnya oke kok.😀

    • Waaahhh…serius Mas Dani? horrrreeee…..iya, masalah pemakaian gelar itu mah memang haknya masing-masing yang mau nikahan🙂

      Unik ya mas desain undangannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s