Follow Up “Pikiran-Pikiran Yang Berkeliaran” – Kuliah S2 (Long Preamble)

Holla Readers !!!

What a bad day hair!!

Sebagai laporan cuaca pagi ini, Dusun Dayun hujan malu-malu. Maksudnya sejak pukul 04.30 WIB, Dayun diguyur hujan. Bisa dibilang hujan karena tidak gerimis, alias kalau kita nekad jogging pagi alhasil badan tetap jadi basah kuyup. Tapi tidak bisa dikatakan hujan lebat, karena ketahuan dari bunyi hujan yang jatuh di genteng kamar mandi yang tidak terlalu bikin ribut.

Peristiwa alam seperti ini, pastinya membuat aku makin meringkuk di dalam selimut sambil berpelukan mesra dengan guling. Udara sejuk, bunyi hujan nan merdu *pitch kontrolnya pas* dan sisa-sisa kantuk yang membuat mata tak rela dibuka menjadi kombinasi yang pas untuk dijadikan alasan : datang telat ke kantor.

Setelah terbangun jam 05.00 WIB untuk menunaikan hak sebagai Muslim, dengan suka rela aku memasang alarm kembali pada jam 06.30 WIB *ya, biarkan dunia tahu aku suka sekali tidur kembali setelah Shubuh, what a bad behavior!!*. Tapi ternyata, ini mata malah berbaik perangai untuk tetap bangun kembali jam 06.00 WIB. Dengan manis langsung bersih-bersih tempat tidur, mandi, berpakaian dan sarapan pagi. Bunyi hujan masih terdengar merdu. Membuat ragu saja, apakah perjalanan ke kantor mesti ditempuh tetap dengan sepeda motor atau harus memanggil bala bantuan mobil kantor untuk menjemputku ke rumah?

Sarapan pagi sambil menatap nanar tetesan hujan di luar rumah, ternyata menjadi jurus ampuh untuk membuat pikiran kosong. Sampai akhirnya, tepat pukul 07.00 WIB *seharusnya jadwal masuk kantor ya jam 7 itu* aku memutuskan untuk pergi ke kantor tetap dengan sepeda motor minus mantel hujan. Kenapa minus mantel hujan? Karena yang aku punya hanya mantel hujan jatah pembagian dari kantor berwarna kuning terang yang membuat aku terlihat seperti “a big banana” yang sedang mengendarai motor.

Sebagai gantinya, aku memakai jaket tebal anti air yang baru saja beberapa detik aku pakai di bawah guyuran hujan sudah basah kuyup. Dan sebagai informasi penting, jalur yang harus kutempuh menuju kantor adalah jalan tanah yang kalau kena air bakalan becek minta ampun alias berlumpur. Tunggu dulu, jangan berburuk sangka berpikir kantorku adalah kantor yang terletak di tengah hutan yang hanya punya jalan tanah seperti itu. Kantorku punya jalan yang normal *diaspal maksudnya*, tapi tidak boleh dilalui oleh sepeda motor.

Kenapa sepeda motor tidak boleh melewati jalan normal?

Karena perusahaan punya kebijakan sepeda motor dilarang memasuki areal perkantoran. Dan kenapa peraturannya seperti itu padahal lebih dari 75% pekerjanya menggunakan sepeda motor ke kantor? Entahlah, hanya perusahaan dan Tuhan yang tahu. Namun sebagai bentuk kelonggaran, sepeda motor tetap diperbolehkan masuk namun dengan syarat hanya boleh menempuh jalan alternatif alias jalan tanah yang kuceritakan tadi.

Sebenarnya, dalam kondisi hujan dan tanah berlumpur seperti ini, aku membuat pengecualian sendiri untuk tetap menempuh jalan normal. Setiap kali hujan, dengan muka badak aku tetap menempuh jalan normal. Namun pagi ini, hatiku merasa tertantang *yaa eellllaaah tertantang* untuk menaklukan rintangan : mengendarai sepeda motor di jalan tanah yang berlumpur dan licin!!

Entah setan apa yang merasuki, dengan bermodal yakin dan nekad aku mulai menempuh jalanan licin. Lambat-lambat saja, tapi alamak………..ternyata beceknya parah gila. Genangan air dan lumpur dimana-mana. Karena sudah terlanjur bertekad *sungguh tekad yang tidak penting*, dengan pasrah aku lewati saja genangan air tersebut. Kemudian? Ya, dengan indah bercak-bercak lumpur menempel di ujung celana dan sepatuku. Puncaknya ketika aku harus melewati jalan tanah (lagi) yang hanya berjarak 100 meter dari kantor. Oh, target sudah di depan mata. Namun, tanah yang satu ini jauh lebih lunak dan licin dibandingkan jalanan di awal tadi. Roda sepeda motorku mulai oleng kiri, oleng kanan. Seperti perjalanan off-road saja, aku berlagak layaknya pembalap handal. Untuk menyeimbangkan badan, tidak ketinggalan aku menurunkan kaki kanan untuk menumpu sepeda motor yang hamper jatuh karena oleng. Yap, hampir separoh sepatu kananku terkena lumpur. Tapi aku tidak akan menyerah, sambil tersenyum sendiri di balik helm aku tetap berjalan menuju kantor dan dengan bangga akhirnya aku sampai di parkiran kantor *dengan backsound “We Are The Champion”*.  Hoooooooooo…..

*to be continued…………*

With Love,

Salam Semangat!!!

28 thoughts on “Follow Up “Pikiran-Pikiran Yang Berkeliaran” – Kuliah S2 (Long Preamble)

  1. wahahaha.,.kapan lagi lewat jalan tanah sambil hujan-hujanan,.,besok-besok g bisa lagi lho., :p
    tapi serius ngakak bacanya,.pasti petugas kebersihan kantor ngomel2 sambil kasih sapu pel ke fanny *sekalian pel kantor buk fanny* hahaha😀

    • bukan hanya dipostingan ini Mbak, post yg lain2 juga….

      saya juga pernah berkubang lumpur gitu hampir 1/4 ban mio masuk lumpur tapi semua terlewati… dan kabar baiknya itu motor teman saya, sedangkan dia udah nunggu diujung, jadi gk ikut nyuci😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s