Kematian yang Damai

(ini hanya pemikiran-pemikiran yang tiba-tiba terpikir saja, jika ada yang merasa tersinggung karena kesamaan nama tokoh, tempat kejadian dan lain sebagainya cerita ini hanyalah fiktif belaka *lhooo??*)

Holla Readers !!!

Pernah menonton film drama yang endingnya ada cewek atau cowok yang meninggal di pangkuan kekasihnya? Setelah mencium kekasihnya mereka tiba-tiba sudah menutup mata atau sembari menggenggam erat tangan kekasihnya, kemudian menutup mata lalu pegangan tangannya semakin melemah?

So sweet.

Aku pun jadi berimajinasi, meninggal di pinggir pantai sembari bersandar atau tidur di pangkuan suami. Disana ada Ayah, Ibu, dan adik-adik. Sambil memandang matahari terbenam di ujung senja, sembari kepalaku dibelai mesra oleh suamiku dan deburan ombak menyentuh kakiku, akhirnya aku menutup dengan damai *ya sangat romantis dan indah sekali*

Namun, pertanyaan untuk paragraph pertama. Kebanyakan dari cerita-cerita di film ataupun sinetron tersebut menyuguhkan adegan meninggal romantis di sisi kekasih, yang sayangnya bukan suami atau istri mereka dalam cerita tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya berstatus pacaran.

Terus, masalah buat lohh???

Ya ga sih, karena jujur sebenarnya aku suka sekali dengan film-film romantis seperti itu. Nah yang jadi masalah *tuh kan iya masalah buat gueehh*, kebanyakan dari penikmat film-film tersebut *termasuk aku* jadi suka berkhayal seandainya aku bisa mengalami hal-hal seperti itu. Ya, semacam “drama queen”. Seperti bermimipi kehidupan ini layaknya drama romantis yang kita tonton.

Masalahnya lagi, andaikan kita beneran meninggal di pangkuan pacar kita sembari mengenggam tangannya, bukannya ntar jatuh jadi dosa? Megang yang bukan muhrim, terus meninggal? Kalimat terakhir yang keluar dari mulut kita pun adalah kalimat “I Love You Yank”, bukan kalimat syahadat? Miris banget kan? Langsung deh diketapel masuk neraka.

Kemudian pertanyaan untuk paragraf ketiga. Meninggal dengan suasana sedamai itu. Namun, apakah malaikat ngasih tahu kita tanggal dan jam berapa kita mau dicabut nyawanya? Sehingga  kita punya cukup waktu buat minta suami dan keluarga buat berkumpul di tepi pantai seperti narasi diatas?

Tidak.

Renungan untuk paragraph pertama. Hidup ini bukan drama romantis seperti yang difilmkan orang-orang. Romantisme lawan jenis, selama itu belum halal, tetap saja akan jadi semu *nambahin dosa aja, hiks*. Kecuali kalau romantisme itu disuguhkan dalam naungan cinta halal yang sudah diridhoi Allah, itu baru indah yang sejati *malahan bisa nambah pahala*. Nah kalau udah nikah, boleh deh tu berkhayal malahan berharap sama Allah untuk bisa meninggal di sisi suami tercinta.

Renungan dan kaitannya dengan paragraph ketiga. Karena kita tidak diberi tahu kapan hari, tanggal dan pukul berapa malaikat mau menjemput kita, kenapa tidak dari sekarang saja kita mulai menciptakan damai itu. Mungkin saja Allah mentakdirkan kita untuk meninggal sendiri, tanpa ditemani oleh siapa-siapa. Ketika kita tidak punya kesempatan untuk minta maaf pada orangtua dan mengatakan betapa kita menyayangi mereka. Betapa menyedihkan.

Apa salahnya dari sekarang, kita mulai menyisihkan waktu untuk menelpon orangtua di kampung, menanyakan kabar dan bilang kalau kita menyayangi mereka. Kemudian tidak lupa senantiasa meminta maaf kalau merasa sudah melakukan kesalahan. Menunjukkan kasih sayang dan perhatian-perhatian untuk mereka, yang mungkin saja selama ini jarang kita lakukan. Jangan sampai menyisakan sedikit ruang di hati kita untuk merasa tidak senang dengan mereka dan sebisa mungkin juga tidak menyisakan sebersit rasa di hati mereka untuk merasa iba hati dan tidak senang dengan perlakuan kita.

Ketika giliran itu datang, kalau pun memang Allah mentakdirkan kita untuk sakratul maut sendirian, tak ada lagi yang terganjal di hati. Pergi dengan keadaan orangtua dan keluarga tahu persis bahwa kita sangat menyayangi mereka.

Begitu juga dengan suami *kalau dari sudut pandang wanita*. Memastikan suami ridho dengan yang istri lakukan terhadapnya, menunjukkan kasih sayang dan langsung memohon maaf jika ada perlakuan istri yang membuat suami marah dan tidak ridho. Kemudian jika suami sudah ridho dengan semua perlakuan istri, lalu si istri meninggal dengan keadaan diridhoi suaminya, bukankah pintu surga akan dibuka selebar-lebarnya untuk si istri? Apalagi kalau meninggalnya betul-betul di sisi suami, ridho mengikhlaskan istrinya pergi kemudian si istri meninggal setelah sempat mengucapkan kalimat syahadat. Bukankah itu kematian yang damai? Sangat damai.

Kematian pun bisa menjadi sangat damai.

*aku pun hanya wanita dengan segudang hina*

“Kematian adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi orang-orang yang paham tentang kematian tersebut”

(Dikutip dari isi ceramah seorang ustadz di TV)

With Love,

Salam Semangat !!!

34 thoughts on “Kematian yang Damai

  1. waw.,.,.amazing.,.g nyangka, ny bakalan posting ttg ini.,.,jd ingat orangtua di bukittinggi *langsung nelpon pulang* eh itu photonya bagus jga.,.,😀

    • iyakah amazing?ga nyangka maksudnya? kematian bukan hal yang tabu dan ditakuti untuk dibicarakan *katanya, mengingat kematian itu pahala*

      saling introspeksi diri dan saling mengingatkan aja kok fiq…Ny pun tak sebaik itu…huhu..:-)

      itu foto ayah ibu..perkenalkan…heheee

    • haahha.,.,.iya g nyangka.,.kirain bakalan posting ttg ksibukan kantor td pagi.,.haha
      iya ny saling mengingatkan agar ttp dkoridor.,.,😀

      ooo.,.,ayah ibu fanny y,.,kenalkan bu yah nama saia rafiq.,.,wkwkwkw

    • aneh, pas kerja kebayang film-film kayak di paragraph pertama dan langsung jalan-jalan pikiran ny entah kemana…huhuuuu…amiiinnn..:-)

      eehh, iko namonyo Rafiq…iyo, makanlah katupek dulu Rafiq *caritonyo pai barayo*

    • wakaka.,.,panik karna kerjaan kok malah kepikiran film.,.film romance lagi.,.,knpa g film horor aja y.,.atau film action *tiba2 jd reviewer*

      iyo bu,iko rafiq.,.ehehe.,.ndeh bahidangan bana katupeknyo,.lah samo2 makan liak bu, yah.,., *caritonyo ka makan rayo* :p

    • Betul uda..terkadang menakutkan namun perlu diingat…

      semoga kita tidak termasuk golongan mereka yang tidak merasa damai dalam menjalani hidup…amiinn..:-)

  2. waaaaaah pemikiran yang luar biasa sist. jarang dari kita mengingat kematian. Kebanyakan orang hanya memikirkan bagaimana mereka bisa bahagia di dunia.🙂 Nice post. *sundul balik*

    • makasi Lala *benar ga itu nama kamu?* hehehee…

      harusnya bisa balance ya antara dunia dan akhirat, kita semua memang butuh lebih banyak belajar lagi🙂

  3. Hehehe. . Kan sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya berawal setelah kematian kan?🙂

    Semoga kita sama-sama bersiap untuk bekal nanti.
    Salah satu dari 3 hal yang terus berjalan setelah kematian yaitu doa anak yang saleh kan? Gak ada salahnya kita mupuk hal itu buat orang tua kita nantinya.
    Semoga semakin di istiqomahkan fan.😀

    • betul Yoga..hiks..beneran abadi itu mah kehidupan setelah mati tu…

      amin ya Allah, semoga kita semua siap ketika waktu itu datang…betul, doa anak yg saleh insyaAllah sampai ke orangtua yang sudah meninggal…selagi masih hidup, bahagiakanlah orgtua..:-)

      amiinn..sama2 yoga..moga kamu juga tetap istiqamah….

  4. Di negeri ‘Bayangan’ sebagian penduduknya beranggapan “mati adalah suatu mimpi” yang diharap kehadiranya namun tak pernah diketahui kedatanganya, karena ‘impian yang sesungguhnya adalah keabadian yang berpaling dari sifat wadak keduniawian’.

    #Halah..ngimpi.., lagian dimanapula negeri bayangan tu:mrgreen:

    • hahaha..berimajinasi boleh aja kok mas…kalau matinya masuk surga, wah itu kehidupan abadi yang indah bangeeettt..kalau mabadinya di neraka?huuaa, hiks..takut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s