Ketika Aku Memilih

Holla Readers !!!

Libur telah tiba…libur telah tiba..horrree…horree..horreee…!!!🙂

…di sini hanya ada satu rumus : semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega…

(Rembulan Tenggelam di Wajahmu – Tere Liye)

Seperti rencana awal, sengaja ke Pekanbaru ga naik travel *biar uangnya bisa buat beli buku* akhirnya dimudahkan Allah. Alhamdulillah dapat tumpangan naik mobil kantor ke Pekanbaru.

Setelah melewati jalan berliku penuh rintangan, penuh kerikil dan batu besar, penuh debu dan lubang dimana-mana *walaupun sempat mual dan pusing selama perjalanan, betapa memalukan* akhirnya taaaraaaaa….sampai juga di Pekanbaru.

Dengan memikul *lebay amat kosakatanya* tas ransel yang berisikan laptop, beberapa baju dan peralatan lenong (baca : bedak, body lotion, pelembab, dll) yang beratnya lumayan memaksa punggung jadi rada membungkuk, akhirnya rencana berikutnya dijalankan *jalan ke tempat tujuan lebih kurang 5 menit dari mess kantor*. Yap, ke Gramedia. Ngapain ke Gramedia akhir bulan gini *dengan isi kantong yang sudah sangat tipis*?

Jadi ceritanya, diawali dengan perkenalan aku dengan uni Rizky Fitria. Lewat akun Facebook si uni yang manis inilah, aku kenal satu orang lagi nama penulis novel. Tere Liye. Awalnya suka banget sama salah satu status Tere Liye yang dishare sama uni Kiki.

“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”
–Tere Liye, novel ‘Eliana’

Keren banget kan? Kata-kata yang terakhir itu loh Readers. …berbual tentang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat…*

Terus akhirnya berlanjut jadi rasa penasaran seperti apa versi lengkap novel karya Tere Liye ini. Ditengah kendala bulan tua *belum gajian*, beli salah satu novel karya Tere Liye ini jadi ga semudah yang dibayangkan. Namun setelah rasa penasaran lebih unggul daripada kantong kering, maka sampailah aku di Gramedia *dengan budget buat beli buku seadanya, cuma bisa 1 buku*

Di depan deretan novel karya Tere Liye ini, aku mulai lihat-lihat dan baca sampul belakang novel-novet tersebut. Ada Kisah Sang Penindai; Hafalan Sholat Delisa; Bidadari-Bidadari Surga; Pukat; Eliana; Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah; Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan masih banyak yang lainnnya. Deg, bingung !! Dilihat, diraba, diterawang *lu sangka uang kertas*, setelah diteliti satu persatu ada beberapa judul yang tereliminasi *bukan karena ga bagus, tapi mereka termasuk list yang akan dibeli next time*. Akhirnya pilihan aku jatuh kepada Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Bidadari-Bidadari Surga dan Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah. Benar-benar pilihan yang membingungkan !! Ngebaca tulisan di bagian sampul belakang buku Bidadari-Bidadari Surga aja udah bikin air mata menggenang *kalau ga malu sama orang-orang, mungkin udah beneran nangis*.

Ditengah kebingungan itu, tiba-tiba teringat untuk hubungi uni Kiki buat kasih saran buku mana yang harus aku pilih. Setelah dapat nomornya dari seorang teman, aku langsung sms dan nelpon uni nan manis itu *ehm, uni ntar jangan lupa THR ya*

Tapi ternyata ga diangkat *yang ujung-ujungnya aku baru tau ternyata tu uni lagi rapat pas dihubungi*, mau tak mau harus mau buat milih sendiri buku yang akan aku beli. Dengan menimbang-nimbang *pake timbangan hati,eeeaaaa*, akhirnya aku memilih Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Kenapa? Karena testomoni dari salah satu pembacanya :

“Satu hal yang membuat buku ini bagus : meraih surga dan dunia dengan sederhana”

Yudi Randa – Mahasiswa IPMI Business School

 

Mungkin suatu saat nanti, aku juga akan jatuh cinta dengan orang yang melihat setiap permasalahan hidup dengan sederhana. Sama-sama meraih surga dan dunia dengan sederhana, melihat kebahagiaan dari hal kecil yang sederhana dan melihat permasalahan juga dengan kesederhanaan.

“Daun yang jatuh tak pernak membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”
— Tere Liye, novel ‘Daun yang Jatuh tak pernah membenci Angin’

With Love,

Salam Semangat !!!

11 thoughts on “Ketika Aku Memilih

    • iya nih uni..tiba-tiba tertarik sama tulisan karya Tere Liye..wah, fny baru baca “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” uni..ntar menyusul baca judul-judul lainnya..

      memang keren uni…hohoho

  1. Bicara soal buku, kadang terasa seolah menyudutkanku dengan keadaan yang selama ini hanya mendapatkanya dari tempat loakan dan pinjam dari TBM (Taman Baca Masyarakat) dan perpustakaan (doh)

    Bersyukurlah orang seperti embak uni..🙂

    saya suka ini mbakayu : “semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega…”

    • Salam kenal Mas,

      Tergantung kita melihat dari segi mana Mas, orang berbicara tentang buku bukan selalu berarti menyudutkan🙂 Saya juga sering minjam buku sama saudara yang lebih lengkap koleksi bukunya. Yang penting kita selalu bersyukur dengan apa yang kita peroleh ya Mas, insyaAllah..

      iya, kata-kata yang Mas suka itu ada di tulisan sampul belakang buku “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” karya Tere Liye

    • Eh..lupa..
      Salam kenal jua mbak Uni..🙂
      Maaf.., sudahlah..sudah , tak usah ambil masalah kata ane mbakayu..😆

      Simpel dan filosofis sekali yah mbakk uni..,tu kata-katana..:mrgreen:

    • mbak Uni?haha..uni tu panggilan untuk kakak perempuan di Minang mas..

      itu kata-katanya Mas Tere Liye, bukunya sangat bagus buat jadi pelajaran hidup Mas😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s