Antara Lambung dan Hatiku

Holla Readers !!!

Sudah berbulan-bulan blog ini terlantar. Debu dimana-mana, sampah berserakan, sarang laba-laba juga banyak sekali. Oh Tuhan, blogger macam apa aku ini *sambil pegang sapu sama kemoceng*

Sambil bersih-bersih, aku mau cerita sedikit tentang organ tubuh aku. Tentang hati dan lambung. Lho, kok hati dan lambung sih? bukannya hati itu lebih enaknya dibicarakan sama jantung atau sama jiwa gitu. Biar ujung-ujungnya ngomongin tentang soulmate *eeeaaa, lebay*. Tapi kali ini aku bakalan cerita tentang kemiripan lambung dengan hati aku.

Jadi ceritanya gini, 2 bulan yang lalu aku kan lagi patah hati nih Readers *ehm ehm ehm*. Yang namanya baru putus dari pacar *apalagi pacarannya udah bertahun-tahun*, pasti bikin sesak kan yah. Di saat seperti itu, bawaannya ga semangat, menyalahkan diri sendiri dan langsung berusaha move on buat cari perhatian dari yang lain. Tapi ternyata perkara usaha buat cari dan dapetin perhatian dari yang lain itu ga segampang prakteknya. Karena rasa kesepian atau sakit hati yang terlampau kronis, kita seperti dibutakan untuk sesegera mungkin mencari “pelarian” untuk mengurangi rasa sepi atau sakit itu. Namun kenyataannya, hati kita ternyata tak secepat itu siap untuk pindah ke lain hati.

Jujur, pernah mencoba untuk mengisi hati lagi tidak berapa lama setelah patah hati. Mencoba, tapi eeehh ternyata hasilnya malah ga enakin hati alias “eneg”. Hati berasa penuh dan seakan nolak buat diisi lagi. Seakan hati aku bilang : “Jjangan diisi dulu woooi, biarin gw sembuh dulu!!” *ya, hati aku memang hati gaul*. Nah, ujung-ujungnya ya gitu. Hati aku seakan “memuntahkan” isi yang aku kasih. Selain ada faktor lain (yang akan aku ceritakan di postingan berikutnya), hati aku memang berasa sangat “eneg” dengan cinta-cinta yang penuh rayuan gombal yang buat aku sekarang identik dengan yang namanya cinta semu. “Eneg” dengan pacaran -pacaran yang ga berujung dengan pernikahan. Seperti perkataan Bapak Mario Teguh, lebih kurang kata-kata beliau seperti ini : “Seindah apapun kisah cinta, kalau tidak berujung dengan pernikahan hanya akan menimbulkan luka di hati kedua belah pihak” *I do agree deh pak*.

Nah, hubungannya apa coba dengan lambung? Jadi gini Readers, aku ini tergolong orang yang mengidap penyakit maag. Dibilang parah ga, dibilang biasa-biasa aja juga ga. Akhir-akhir ini penyakit maag aku lagi suka bikin sensasi. Kalau pagi bangun jam 5 buat Shubuh itu, bawaannya pasti mual dan muntah. Yang keluar pas muntah itupun cuma cairan yang rasanya asam-pahit. Waktu itu, aku coba mengurangi rasa mualnya dengan cara minum air putih hangat ketika bangun tidur. Tapi hasilnya, yang dimuntahin keluar jadi lebih banyak lagi. Pernah juga nyoba minum Tolak Angin. Hasilnya tetap sama, tetap muntah dan rasanya malahan rasa Tolak Angin *semoga ga jijik, haha*. Ini lambung baru mau diisi kira-kira jam 8-9 pagi. Begitu menyiksa, sampai akhirnya berobat ke dokter dan dibilang sakit gastritis.

Setelah aksi sakit maag ini mulai mereda, aku mulai berpikir kalau lambung dengan hati aku mirip. Mirip perangainya. Mereka sama-sama menolak diisi di waktu yang tidak tepat, kalau tetap dipaksain ya jadinya itu tadi. Rasanya ga enak, eneg dan dimuntahin. Mereka sama-sama meminta waktu dulu beberapa saat, sampai mereka merasa siap untuk diisi. Bahan apa yang mau diisi pun, harus dipilih-pilih dulu. Ga boleh sembarangan. Kalau lambung, ga boleh  diisi sama makanan yang pedas atau asam. Kalau hati, ga boleh diisi sama cinta yang semu, yang tidak se-visi dan bertentangan dengan aturan Allah. Kalau salah-salah masukin, ya ujung-ujungnya sakit lagi, perih lagi.

Sekarang ini, hati aku udah  mulai pulih. Mulai tidak merasa eneg lagi, mulai terasa lapang dan damai. Seperti kata pepatah yang aku kenal di masa-masa awal aku patah hati, rasanya aku sudah hampir sampai di “seberang”. Tapi ga perlu dibakar dan dimusnahin juga sih “jembatannya”, cukup dibiarkan saja untuk diambil hikmah dan pelajarannya. Begitu juga dengan lambung, mulai ga macam-macam lagi setelah mengkonsumsi obat yang selalu mesti dikunyah setengah jam sebelum makan.

If youre gonna burn a bridge behind you, make sure you’ve crossed it first.’

Semua yang sakit butuh obat, butuh waktu buat pulih. Berbagai macam metoda penyembuhan, mulai dari obat, terapi sedekah, obat alternatif, obat herbal bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menyembuhkan sakit. Ya, media. Karena yang memberikan kesembuhan itu hanya Allah SWT, melalui media yang Dia kehendaki. Apapun, bermuara kepada-Nya, dan hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram dan damai.

Nah Readers, mirip kan yah hati sama lambung aku? Aku senang mereka mirip, karena itu menandakan mereka adalah bagian dari aku, dengan segala sifat dan tingkah laku yang hampir sama. Semoga makin ke depan, semuanya menjadi lebih baik. Bukan berarti keadaan yang harus jadi lebih baik, tapi cara kita memandang dan menyikapi permasalahan dan kejadian-lah yang harus jadi lebih baik dan lebih dewasa. Istiqamah melakukan perbaikan diri, itu yang terpenting.

With Love,

Salam Semangat !!!

13 thoughts on “Antara Lambung dan Hatiku

  1. wah.,.wah.,.asik bacanya.,.,mengalir alurnya.,.,. :p itu yg di paragraf 2 terakhir ada terapi sedekah *jd ingat sms.,.lngsung buka kotak pesan*

    benar jg hati n lambung pecicilannya sama.,. #kosakatabaru😀

    • horeeee…ada komen hasil pemaksaan..terima kasiiihhh..:-) eh ya, sejarah 2 nama kmaren tak jadikah di publish di blog?? iya iya, terapi sedekah..hehe..

      whuuuaa, hati dan lambungku dibilang pecicilan..hehe..biarlah pecicilan jadi diri sendiri asalkan tetap di jalan yang baik…sepertinya menarik..:-p

  2. haha.,,.udah dkomen dluan bru bca mentionnya.,.wohoho.,.,.sabar ntar jg muncul sndiri dblog.,.,lg bertapa.,.,galau klo udah mulai nulis.,., :p

    pecicilan artinya miripkan?

    • hohohohoooooo…benarkah?alhamdulillah bukan komen hasil pemaksaan…

      jgn bertapa terus pak, semakin bertapa berarti semakin dihayati…ckckckckckk…

      bukkkkkaaaaaannn…pecicilan itu artinya kayak anak kecil, ga bisa diem…wkwkwk…tapi sekarang sudah mulai berkuran kadar pecicilan any fiq…hehehe…

    • yipiii.,.,.tp klo ada yg lain komen brrti hsl pemaksaan #eh ♉(˘♢˘)♉

      smkin dhayati smakin rumit tulisannya.,.wakaka.,.
      waduh.,.salah.,.ternyata kyk anak kecil artinya.,.,tp cocok jg kok pecicilan dpke antara hati n lambung.,.:)

  3. Hati, hati ku sakiiiiiiiiiiiiiitttttttttt…………….sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii……………..
    Lambung, lambung ku lebih sakiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt…………lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…..
    Semangat Fanny, U will get the best🙂

  4. Postingan bijak nih ya Mba Fanny..
    Mau komen soal gastritisnya ah. Dulu saya juga gitu, tiap pag muntah-muntah pahit gitu.
    Trus saya dateng ke rumah nasabah tiap pagi demi tugas kantor, kebetulan nasabahnya bikin jus kangkung, sawi, toge, bayem, apel mentah campur semua jadi satu. Saya dikasih. Diminum tiap pagi. Ada mungkin setengah tahun saya gitu terus. Eh Alhamdulillaah sembuh.😀

    • Waahh..bijak darimana Mas? Ini hanya cerita analogi yang gastritisnya terkadang masih terasa sampai sekarang…heheee…

      Jadi itu obatnya Mas? Minum jus sayur tiap pagi? Kalau diganti sama Nutr* S*ri yang sayur-sayuran itu bisa ga ya Mas Dani?

  5. Hai sista, salam kenal aja dah. Sumpah ngakak banget baca cerita nya. ” woi jangan di isi dulu, biarin gue sembuh” itu ibarat lagi ringkih malah kena gempa bumi. Sumpah lucu banget, pesan moral nya mungkin aja ke tutup sama ceria dan logat nya yang kaya orang “padang” kampung nan jauh dimato. So seru juga ni blog. Siapa si pengarang nya? Pasti bakalan seru nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s