Kejedot “How If………???”

Holla Readers !!!

Terinspirasi dari update-an status seorang teman {…selalu tersandung kata-kata “how if..”}. Sejenak setelah membaca status teman ini, aku pun terpikir bahwa aku adalah tipikal orang yang juga selalu kejedot dengan kata-kata “how if” (bagaimana jika) ketika akan melakukan sesuatu, terutama sesuatu yang baru. Dimulai dari masa-masa tamat SMA sampai detik ini. Ketika kata-kata “how if” terucap atau terpikirkan, biasanya kata-kata tersebut tidak terpikirkan untuk satu atau dua hal, namun untuk banyak hal.

Seperti contohnya di situasi (1) akan memulai pekerjaan di suatu daerah yang jauh dari keluarga. Pertanyaan seperti :

  • Gimana kalau aku jauh dari orangtua, aku bisa dapat teman dan keluarga baru yang baik ga ya?
  • Gimana kalau aku jauh, pacar aku bakalan selingkuh ga ya? (hahahaa…ketawa geli buat yang satu ini, serasa curhat)
  • Gimana kalau disana kerjaannya ga enak, lingkungannya bisa nerima aku ga ya?
  • Aku kan bukan tamatan universitas ternama, gimana kalau aku ga tau mesti ngapain disana, pasti orang-orang kantor pada ngejekin aku.

Atau pada situasi (2) memilih kuliah di daerah yang jauh  atau dekat dari keluarga. Pertanyaan seperti :

  • Gimana kalau aku lagi kangen berat sama Ibu, kan Bandung jauh, mesti naik pesawat dulu ke Padang. Kan mesti ngumpulin uang banyak buat ongkos, gimana kalau uangnya pas-pasan?
  • Pacar aku kan di Padang, gimana kalau kita ga bisa LDR-an? ntar putus dong..
  • Gimana kalau aku ga lulus SNMPTN? Ntar mau cari tempat kuliah dimana lagi??
  • Aku kan cuma gadis kampung yang ga modis, gimana kalau ga ada yang mau temenan sama aku?

Atau pada situasi (3) memilih judul untuk Tugas Akhir. Pertanyaan seperti :

  • Kalau aku pilih judul tentang masterplan, bisa selesai sesuai target waktu yang udah ditentukan ga ya? Gimana kalau datanya banyak, trus TA-nya ga selesai sebelum target?
  • Tugas Akhir penelitian bagus juga, tapi gimana kalau penelitiannya membutuhkan banyak uang? Kan kasihan orangtua..
  • Waaahh, TA Detail Engineering Desain kerrrreeennn banggeett, aku pilih ini aja. Eh, tapi aku kan paling lemah dalam hal desain teknik. Gimana kalau TA aku kebentur di tengah jalan gara-gara aku ga bisa membayangkan detail desain dan perhitungannya?
  • dan berbagai pertanyaan “gimana kalau” lainnya…

Pertanyaan “how if” atau “bagaimana jika” adalah hal yang sangat wajar terpikirkan ketika kita akan mengambil sebuah keputusan dan melakukan sesuatu yang belum biasa kita lakukan. Hal tersebut merupakan bentuk kewaspadaan kita pada kejadian terburuk dari sesuatu yang akan kita pilih. Tidak ada yang salah dengan kejedot “how if”, namun masalahnya seberapa lama dan seberapa ampuh kata-kata “how if” ini menjerat kita sehingga membuat kita terlalu lama berpikir atau terlalu lama mengembil keputusan sehingga mungkin saja membuat kita melewatkan kesempatan baik yang datang pada kita.

Yang perlu diingat bahwa setiap pilihan yang kita ambil, PASTI punya resiko tersendiri. Kata-kata “How if” akan menjadi baik jika kita gunakan untuk membuat list hal-hal apa saja yang mesti dipersiapkan untuk menghadapi keadaan baru tersebut. Dan kata-kata “how if” akan bisa jadi sangat merugikan jika membuat kita berpikir terlalu lama, sehingga kesempatan baik yang datang terlewatkan begitu saja. Terlalu cemas dengan segala sesuatu bisa menjadi penghalang bagi langkah kesuksesan.

Nah, ada beberapa tips yang bisa aku bagi sedikit buat Readers yang sering kejedot “how if” :

  1. Berpikir dengan kepala jernih tanpa dipengaruhi oleh saran atau pendapat orang lain, biarkan saja pertanyaan “how if” mengalir sebanyak-banyaknya dari kepala Readers.
  2. Sebisa mungkin, pikirkanlah dampak jangka panjang dari keputusan yang Readers ambil. Pikirkan dan ambil keputusan yang mempunyai hasil dan dampak yang paling baik untuk jangka panjang dan masa depan Readers.
  3. Kebanyakan dari pertanyaan “how if” merupakan bentuk kecemasan yang hadir karena belum terbiasa dengan suatu kondisi yang baru, umumnya bersifat sementara dan akan hilang ketika Readers berani mencoba dan menghadapi kecemasan tersebut. Jadi, ambil resiko dari pilihan yang diambil, cobalah dan hadapi ketakutan. Be brave !!

Bagaimana dengan Readers?? Punya pengalaman pribadi tentang kejedot “how if” dan berhasil melewatinya dengan baik? Atau punya saran dan tips agar kata-kata “how if’ tidak menjadi penghalang langkah kesuksesan, justru malah menguntungkan? Yuk, berbagi disini, siapa tahu jadi manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

With Love,

Salam Semangat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s